para mujtahid cinta yang sedang sibuk hatinya dengan pencarian cinta yang sebenarnya, mak sobir janda tua ini sedang sedih memikirkan putrinya, betapa tidak nelangsa sudah hampir usia kepala tiga anis belum juga bersuami sedangkan ibunya sudah terlalu sakit mendengar ocehan para tetangga yang menanyakan kapan si anis menikah, Tidak kurang mak sobir menasehatinya untuk segera menikah mulai usianya yang masih muda dulu sampai sekarang yang hampir memasuki kepala tiga. Dan tidak jarang mak sobir memelas pada putrinya dengan mengatakan mau sampai kapan menunggunya menikah sedangkan usianya sudah tua dan tidak lama akan menyusul ayahnya.
Anis dulu memang pernah sampai bertunangan dengan seorang pria, namun pria tersebut mengkhianatinya saat merantau ke Jakarta, mungkin itu salah satu penyebab kenapa anis memutuskan untuk tidak menikah dulu takut kejadiannya akan seperti dulu. Tidak kurang usaha ibunya untuk mengenalkan anis pada pria yang dirasa ibunya cocok padanya, tidak hanya itu beberapa rekan kuliah dan sampai rekan kerjanya yang pernah melamarnya namun hasilnya nihil dia tetap enggan dan menolak. Memang seperti apa masa lalunya bersama tunangannya hingga dia tak lagi mau memulai kembali kisah cintanya bersama pria lain .
Flash back: semenjak Arya memutuskan untuk merantau ke jakarta, Anis sudah tidak begitu setuju, namun Arya meyakinkan bahwa kepergian dirinya adalah untuk kebaikan keluarga dan dirinya, sehingga Anispun setuju, mereka menikah setelah Arya pulang dari Jakarta. tidak kurang dari sebulan kepergian Arya Ayah anis jatuh sakit dan harus dioprasi yang biayanya mahal. Anis saat itu masih menjadi mahasiswi belum memiliki penghasilan, sehingga harus menjual toko dan sawah milik keluarganya untuk berobat. Namun ketika dia dalam keadaan tertekan dan sendiri menghadapi cobaannya, Arya bukan hanya tidak ada di sampingnya tapi malah memutuskan pertunangan dengan anis dengan alasan yang tidak masuk akal. anis mulai tegar dengan sendirinya, berbagai macam semangat dia dapat dari teman-teman dan keluarga dekatnya, anis tak lagi memikirkan kuliahnya dia tetap tinggal dirumah sakit bersama mak sobir untuk merawat ayahnya, sedangkan adik-adiknya dia titipkan pada keluarganya.
Dia mondar-mandir membantu ibunya mencari pinjaman karena kekurangan biaya untuk berobat, sedangkan kondisi ayahnya semakin memburuk dan belum juga membaik, sampai suatu hari ayahnya tidak mengenali anis lagi, seketika anis menangis dan memeluk ayahnya yang sudah dalam keadaan kritis. Betapa sakit hatinya melihat ayahnya terbujur lemah sedangkan dia tidak bisa berbuat apa-apa. mak sobir melihat keadaan suaminya tidak bisa berbuat apa-apa lagi, karena sudah kehabisan biaya akhirnya ayah anis dibawa pulang dan dirawat dirumah, dua hari setelah kepulangannya keadaan ayahnya sudah sangat kritis namun ayahnya tidak mau dibawa kerumah sakit, anis dengan setia mendampingi ayahnya dengan membacakan yasin, sedangkan mak sobir dengan sabar membisikkan kata “lailla ha illallah” pada suaminya, tidak lama ayah menutup matanya, kemudian semua orang mendekat dan serentak menangisinya anis tetap menyelesaikan membaca surat yasin, dia tau ayahnya sudah tidak ada tapi dia menafikkan hal itu, saudara dekatnya memeluknya. Kemudian anis dengan menahan air mata dia sempakan mencium tangan dan telapak kaki ayahnya, tidak terasa air matanya jatuh kemudian diikuti dengan tubuhnya. Serentak semua kaget dengan kejadian itu lalu pamannya menggotong anis ke kamar, beberapa menit dia tidak sadarkan diri, sampai akhirnya keadaanya menjadi ikut drop dan lemah.
Ketika sadar dia temui wajah pucat dan dingin di hadapannya, kemudian mencium pipinya sambil berbisik “saya sudah ikhlas ayah, berbahagialah disisihnya”, kakinya yang mulai lemas, pandangannya kembali buram, kepalanya pusing dengan tatapan yang memelas, melihat dua adiknya yang masih kecil, ibunya yang sudah tua. Keadaan tidak membaik ketika Arya mengirim pesan padanya, dia semakin sedih dalam keadaan seperti ini pria yang begitu dikasihi olehnya jangankan datang, televon saja tidak hanya mengirim pesan singkat mengucapkan bela sungkawa. Semenjak hari itu dia tau menunggu sesuatu yang belum pasti kembali untukknya tidak akan membuatnya bahagia hanya nestapa, dia menatap kedepan melihat ibu dan adik-adiknya, hanya dia satu-satunya harapan, tidak ada lagi cinta di hatinya bukan juga kebencian didadanya tapi keteguhan hati untuk menyekolahkan adik-adiknya dan membahagiakan ibunya. Dia memulai kembali hari-harinya dengan menekuni pendidikannya, waktu yang tersisa dia gunakan untuk bekerja menjual kue kering juga gorengan kadang membantu di kantin untuk dapat makanan gratis tanpa mengeluarkan uang.
Ketekunannya belajar dan bekerja membawanya pada kesuksesan, dia lulus dengan nilai terbaik, dan mendapatkan pekerjaan tanpa mencarinya karena teman ayahnya bekerja menawarinya untuk tes tanpa mendaftar, setelah lulus tes dia ditempatkan di perusahaan eksport dan anis ditempatkan pada bagian pemasaran barang, yang lokasinya tidak jauh dari daerah tempat tinggalnya sehingga dia bisa pulang setiap hari dan menemani ibu serta adik-adiknya. Dia bisa membantu ibunya untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari dan menyekolahkan kedua adiknya. Keadaan ekonominya semakin memulih, selain bekerja di perusahaan besar tersebut dia juga mengajar di panti asuhan tempat dia dulu tinggal ketika kuliah, seakan ingin balas budi anis tetap menyempatkan pergi ke panti asuhan tersebut ketika libur bekerja hingga sekarang.
Kini usinya yang tak lagi dibilang remaja dan muda, dia memang harus mencari pasangan hidup bukan hanya untuk menutup omongan buruk terhadapnya tapi juga melengkapi keberadaannya yang sekian lama kosong. Bukan munafik jika dikatakan trauma, tapi trauma yang berlebihan itu tidak menghasilkan kebaikan, hingga ketika ibunya yang semain renta itu sakit anis baru merasa bahwa dia memang membutuhkan seseorang untuk mendampinginya, mengayominya, menjaganya , mendengarkan curahan hatinya, dan membahagiakan dirinya serta keluarganya.
“ibumu ini semakin lama semakin tua to nduk, apa kamu tidak pengen menikah ditemani ibu?, adik-adikmu sudah berhasil kamu sekolahkan, ibu sudah kamu ajak naik haji, kamu sudah berhasil membahagiakan ibu dan adik-adikmu. Kapan kamu membahagiakan dirimu sendiri?” ucap mak sobir pada putrinya yang tak kunjung menjawab pertanyaannya. Anis hanya diam kemudian keluar dari kamar ibunya kemudian memutuskan untuk menelefon rekan kerjanya untuk diajak bertemu.
Kemudian dia menceritakan semua masalahnya pada rekan kerjanya yang bernama dewi, dewi tersenyum lalu menyeruput kopi susu hangat yang baru saja dia pesan. “nis, kamu ini cantik, punya karier kok masih saja susah memikirkan jodoh, kata orang tua dulu jangan pacaran dulu nanti kalau sudah sukses jodoh itu datang sendiri, iya kan?”, jawaban santai dari dewi tidak memuaskan hati anis, dia kembali mengelak, “ itu untuk kamu dew, enak sudah berkeluarga, punya suami dan anak sedangkan aku, ibu selalu ingin aku menikah padahal aku masih belum.”ucap anis.
“loh..loh..jadi kamu ini pengen menikah atau Cuma karena ibumu yang mendesakmu?, ya ampun...nis nis... mau menunggu sampai usiamu berapa? Sudah benar ibumu mendesakmu, kamu mau dapat image jelek dengan disebut perawan tua maaf nis tapi aku rasa ibmu benar.”
“aku belum tau dew, aku bingung kenapa aku sama sekali belum tertarik untuk menikah dan berkeluarga padahal ibuku sendiri yang menyuruhku.”
“aku rasa kau ini tidak mau karena hatimu masih tertuju pada mantan tunanganmu yang dulu, iya kan??, buat apa nis...menunggu sesuatu yang belum pasti kembali untukmu dan sudah pasti meninggalkanmu dengan cara seperti itu, lebih baik kamu membuka kesempatan bagi mereka yang tulus ingin membahagiakanmu?”
“aku rasa begitu dew, tapi dengan siapa aku menikah aku juga belum tau, aku sudah menolak lamaran pria pilihan ibu, aku juga tidak menerima lamaran dari teman kuliah dan rekan kerja yang kini mereka malah lebih dulu berkeluarga dan hidup bahagia”
“kau ini terlalu memilih, lihat hasil pilihanmu yang dulu ga bener kan?, lebih baik kamu datang ke orang yang bisa kamu percaya untuk mencarikanmu jodoh terbaik untukmu dan pastinya jangan sembarangan, gimana punya ga?”
Dengan berfikir sejenak, mencari-cari dari ingatannya kemudian tercetus “ada dew, beliau Kiai di tempatku dulu ngaji. Beliau punya pesantren tidak jauh dari sini.”
“bagus, pasti beliau bisa membantumu nis. Santrinya pasti banyak dan biasanya orang pesantren itu tidak sedikit yang baik rata-rata mereka semua baik. Kalau gitu tunggu apa lagi mumpung masih sore ayo kota kesana.”
“hah..apa harus sekarang dew?, aku belum siap-siap lagipula bagaimana dengan suami dan anak-anakmu dirumah?”
“Cuma sebentar aja nis, lagipula dirumah ada pembantu kok, ayo...!” sambil menarik tangan anis.
Dengan menggunakan honda jazz miliknya, anis dan dewi melaju ke pesantren, setelah sampai disana keadaan sekitar sangat tenang bisa terlihat suasanya yang redup dengan dipenuhi santri yang berwajah polos, kedatangan anis dan dewi seakan menggugah pandangan untuk tertuju pada mereka berdua, kemudian mereka mulai mendekati tempat dimana kiai tersebut tinggal, dan menuju ke pintu kemudian diketuknya secara perlahan sambil mengucap salam, tidak lama kemudian keluarlah seorang wanita setengah baya dengan ramah melempar senyum pada keduanya, wanita tersebut sudah terlihat sedikit keriput namun masih terlihat muda dengan parasnya yang cantik dan bahasanya yang lembut.
“walaikumsalam, monggo masuk nak...!” setelah anis dan dewi masuk ibu itu bertanya, “maaf ada keperluan apa ya...?”
Anis kemudian mencium tangan ibu tersebut dan diikuti dewi, “saya anisa ayu bu,,,putrinya mak sobir yang dulu pernah mengaji disini.”
“owalah...kamu to nduk...cah ayu ibu hampir tiak mengenalimu, semakin dewasa semakin cantik saja, bagaimana kabar ibumu?”
Dari awal anis sudah menduga bahwa itu adalah bu aisyah istri pak kiai, karena wajahnya tidak berubah mulai dari dia dulu Sma hingga sekarang masih tetap cantik dengan senyum khas yang lembut, “ ibu sekarang sedang sakit bu.” Kemudian anis menitihkan air matanya, serentak dewi memberinya sapu tangan untuk mengusapnya kemudian bu Aisyah mendekatinya, “atagfirullah...sabar ya nduk, ceritakan pada ibu apa yang bisa ibu bantu insyaallah akan ibu bantu.”
“ibu ingin saya segera menikah, tapi saya belum siap hingga sekarang padahal kondisi ibu sekarang sudah sakit-sakitan, saya datang kemari ingin minta tolong sama pak kiai agar mencarikan saya jodoh yang beliau rasa tepat untuk saya.”
“masyaallah...anakku, pak kiai sekarang sedang berada di luar jawa untuk mengunjungi temannya waktu dipesantren dulu, baru berangkat kemarin siang, biasanya kalau keluar jawa pak kiai agak lama bisa sampai sebulan”
Semakin pupus harapannya, sepertinya dia akan menyandang perawan tua dari saudara dan tetangganya, kemudian dengan hati yang berat dia pulang bersama dewi, dewi memegangi tangan anis sambil terus memberinya semangat. “sudahlah nis jangan sedih pasti tuhan memiliki rencana yang begitu indah hingga menyimpannya sedikit lebih lama darimu.”
Anis menganguk kemudian dia pulang diantar dewi, sesampainya dirumah dia melihat adik bungsunya yang panik karena ibunya kesakitan, tak berfikir panjang ditemani dewi membawa ibunya kerumah sakit, setelah mendapat perawatan dari dokter ternyata ibunya mengidap penyakit jantung, anis kembali lemas dengan duduk di kursi rumah skit, sedang dewi dengan setia menemaninya, adik bungsu anis hany bisa menangis sedangkan adik keduanya sedang kuliah dan tidak bisa pulang.
Hari sudah semakin malam, anis menyuruh dewi pulang karena dia punya keluarga dirumah, tinggal anis dan adiknya dirumah sakit mennggui ibunya yang masih belum sadar, dia berfikir seandainya dia punya suami pasti ada yang mendampinginya menjaga ibu dan adik perempuannya yang kini masih Smp, namun kegagalannya untuk bertemu pak kiai sore tadi membuatnya semakin khawatir dengan dirinya. Apa benar dia masih menunggu arya untuk kembali padanya, padahal sudah jelas Arya memutuskan pertunangan dengannya, dan tega membiarkan dia jungkir balik sendiri ketika keluarganya sedang dilanda ujian, Arya sama sekali sudah tidak peduli padanya, lalu buat apa dia menunggu Arya lagi, diapun tidak tau bagaimana kabar Arya di Jakarta apa sudah menikah atau belum, kemudian dia terbangun dari lamunan ketika adiknya mengatakan ibunya sudah sadar. Dengan keadaan lemah ibunya menarik tangan anis seakan ingin membisikkan sesuatu, kemudian anis mendekatkan telinganya,
“ibu bermimpi bertemu ayah nduk, beliau menggandeng pemuda bersongkok tampan sekali.”
Kemudian anis mengangkat kepalanya dan pergi ke mushola disitu dia berwudhu dan sholat, dengan suara terbata dan menitihkan air matanya anis meneladahkan tangannya “ya Allah kenapa diriku begitu sombong, ibu sangat ingin aku bahagia hingga kini beliau sakit karena memikirkanku, kenapa tak kau bukakan sedikit saja hatiku untuk pria yang mencintaiku agar aku bisa membalas cintanya, akupun ingin bahagia dan berkeluarga seperti yang lainnya.”
Setelah usai berdoa dia menunggui ibunya lagi dikamar Rumah sakit. Setelah beberapa hari keadaan ibunya membaik dan boleh dibawa pulang. Untuk bebeapa hari ini anis putuskan untuk tinggal dirumah dan tidak bekerja untuk merawat ibunya sampai sembuh, setelah beberapa minggu anis mendapat televon dari pesantren, bahwa pak kiai sudah pulang dan ingin bertemu dengannya. Atas ijin dari ibunya Anis bergegas menuju ke Pesantren, kemudian sesampainya disana anis bertemu guru lamanya, setelah kembali menceritakan masalah yang sedang menimpa dirinya, tanpa bertanyapun pak kiai langsung tau apa tujuan anis mencarinya.
“kamu ingin abah yang mencarikanmu suami nduk?” ucap pak kiai sambil menatap wajah anis, tanpa jawaban anis mengangguk yakin disertai harapan yang akan pak kiai berikan padanya.
“baiklah, tapi bagaimana jika pilihan abah tidak sesuai denganmu?. Bukannya kamu menikah atas kemauan ibumu bukan kemauanmu sendiri kan?.”
“saya serahkan semua pada abah, saya yakin abah akan mencarikan yang terbaik untuk saya.” Ucap anis dengan menunjukkan keyakinannya.
“kalau begitu pulanglah, seminggu lagi persiapkan dirimu untuk taaruf dengannya.” Jawaban pak kiai seakan membuatnya sedikt lega untuk menyenangkan hati ibunya, namun sekaligus membuat anis khawatir akan kedepannya, karena dia akan menikah dengan orang yang sama sekali belum pernah dia lihat, meski ta’aruf itu di rasa belum cukup bagi orang moder seperti anis.
Hari demi hari berjalan seperti layaknya, hanya anis sedikit ragu dengan keputusan yang dia buat semata-mata bukan atas kehendaknya sendiri. Dia memikirkan masa depannya bersama pria yang akan dijodohkan dengannya, meskipun belum tentu perjodohan yang di lakukan oleh pak kiainya itu dia terima atau pria itu terima, tapi sepertinya dia akan mendapat dukungan penuh dari ibunya untuk menerima pria tersebut meski ibunya belum mengenalnya.
Sehari sebelum pertemuannya dengan pria itu, dia memutuskan untuk menemui dewi rekan kerjanya untuk meminta pendapat kembali mengenai perjodohan itu.
“kenapa lagi nis?, ini hanya masalah waktu saja. Bukannya kamu ingin melakukannya demi ibumu, kenapa harus kau tanyakan kembali?” nasehat dewi pada anis.
“aku masih ragu dew, aku seakan belum yakin dengan semua ini, aku bingung.” Ucap anis sambil memegang jidatnya seakan ingin mengurangi kebingungannya.
“kamu kan sudah percayakan hal itu sama pak kiai dan kamu yakin beliau pasti memberikan yang terbaik untukmu. Bukankah lebih baik mencoba hal dulu baru kemudian kecewa daripada tidak mencoba sama sekali kemudian kecewa karena menyesal?, atau jangan-jangan kamu masih mengharap Arya datang padamu kemudian melamarmu?, kalau iya...kau benar-benar sudah mati rasa nis. Aku rasa wanita manapun tidak akan mengulangi kesalahan yang sama dengan menerima pria tak bertanggung jawab seperti Arya.”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar