Minggu, 04 Mei 2014

syiir rindu



by: @ayuhumairah
Lagu rindu tak sanggup obati
Tiap goresan penuh arti
Selalu membebani
Tak pernah lelah tuk berlari
Tapi angan kan tetap menanti
Tak kunjung hilang
Tak tau apa yang kau beri
Hingga tak mampu ku terjang
Bayang dan tiap kenangan
Rasa iba tiada tara
Rasa benci tiada sunyi
Melampaui batas perih
Kini kau tak hanya pergi
Tapi sudah tak akan kembali
Masa lalu kau bilang sudah mati
Dan aku ada di dalam masa lalu ini
Menunggu sesuatu yang tak akan kembali
Hingar bingar tak ku anggap lagi
Hanya sepi tanpa melodi
Sedang kau semakin bernyanyi
Tak kau anggap lagi
Tak ku harap kau tau aku
Tak ku ingin kau ingat diriku
Cukup taukah saja syiir ini ku buat hanya untukmu
Syiir rindu yang obatnya hanya kamu
Pergilah sayangku
Jika masa lalu itu menyedihkan bagimu.


MIMPI...



by:@ayuhumairah
Ketika tangan tak mampu meraih
Ketika tubuh tak lagi terjaga
Ketika matapun tak sanggup bicara
Lalu untuk apa kau hidup...
Membiarkan mimpi memperdayamu
Tanpa tindakan...
Sedangkan mata buta telinga tuli dan mulutmu bisu...
Kau hanya bermimpi
Berharap tuhan menuruti semua keinginanmu
Jika tidak kau akan memakinya
Bukankah kau hanya mimpi...
Tapi tak bergerak untuk meraihnya

KISAH SI KURA-KURA KECIL



by : @ayuhumairah
Pada suatu hari induk kura-kura sedang hamil tua, dia berlarian berenang secepat mungkin dan mencari daratan untuk mengeluarkan telur dalam rahimnya, dia bingung sekali karena tak ada bidan kura-kura di dalam air. Si kura-kura terus berenang sambil merintih kesakitan seperti ibu-ibu yang hendak melahirkan, kasihan sekali si induk kura-kura karena dia bertelur tanpa ditemani pasangannya, secepat kilat dia berlari dan mengaduk aduk pasir sesampainya ditepian pantai, mengeruk eruk pasir yang akan dibuat tempat melahirkannya, membuat lubang yang dalam untuk calon bayinya supaya lebih hangat dan tidak ditemukan oleh pemangsa ataupun pemburu telur kura-kura, si induk kura-kura sangat hati-hati menempelkan pantatnya ke bantaran pasir mengerung beberapa kali, meringis berulang kali bahkan tangannya juga sempat mengeruk eruk tanah didepannya untuk menahan rasa sakitnya, malang sekali si induk kura-kura. Beberapa jam berusaha sendiri dan lagi-lagi tanpa ditemani bidan kura-kura dia berhasil mengeluarkan puluhan telur dalam rahimnya. Kura-kura memang binatang yang tegar dan mandiri.
Setelah meninggalkan telurnya sendiri ditempat yang gelap, si induk mulai bepergian kembali, mengelilingi samudra nan luasnya tak terkira, apa kalian tau kura-kura adalah hewan yang tak pernah lelah berenang dia hewan yang paling kuat menempuh perjalanan jauh tanpa istirahat sekalipun, benar saja dia hewan yang tegar dan mandiri selain itu dia juga mengajari calon-calon bayinya untuk menjadi mandiri sepertinya, dia tak menjenguk sekalipun telur yang pernah dia keluarkan dari rahimnya, dia pergi begitu saja, dia tak khawatir jika suatu hari bertemu dengan salah satu atau salah banyak anaknya dia tidak akan mengenalinya, itu tidak benar karena kura-kura memiliki strong feeling dengan kura-kura yang memiliki hubungan kekerabatan dengannya.
Setelah beberapa lama akhirnya telur-telur itu mulai menetas, pecah satu demi satu, pecah bagian atasnya dan nongol kepala-kepala bayi kura-kura yang botak dan mulutnya yang saling terbuka entah mereka sedang menandakan apa, saling menyapa antara saudaranya atau malah berkenalan karena bingung belum sempat berkenalan. Benarkan… bayi kura-kura menjadi tegar setelah dia ditinggalkan oleh induknya, dia tidak menangis seperti bayi-bayi pada umumnya, meminta diteteki atau merengek pada induknya, namun setelah menetas satu demi satu mereka tak kunjung kebingungan akan bagaimana selanjutnya hidupnya, mereka turun dari cangkang telur menunggu saudaranya yang masih enggan keluar dari cangkang telurnya untuk kemudian pergi bersama-sama menuju laut nan luas menyusul induknya. Setelah menetas semua rombongan kura-kura kecil itu benar-benar berlari tanpa perlu tengkurap dulu, tanpa harus belajar duduk, tanpa harus belajar merangkak dulu, mereka langsung berlarian menuju samudera bersiap dengan perjalanan yang sama serunya dengan induknya, meski tubuh kecilnya sering kembali ketepian karena diterpa ombak mereka tetap kembali berlarian dengan riang sambil menunggu ombak membawanya. Hebat bukan, kura-kura tak hanya tegar dan mandiri mereka juga tidak mudah putus asa.
Bayi kura-kura itu tak menanyakan kemana kedua orang tuanya meski mereka bukan yatim piatu karena mereka yakin dilahirkan dari orang tua yang baik-baik. Kalian pasti tau, bahwa kura-kura itu adalah hewan yang sangat setia, dalam hidupnya kura-kura hanya memiliki satu pasangan saja, ketika kura-kura itu mulai jatuh cinta dan memutuskan menikah dengan pasangannya, dia hanya akan mencintai pasangannya tidak bisa mencintai yang lain, meski si betina dibiarkan melahirkan sendiri berlarian kesakitan sendiri, ditinggal oleh si jantan merantau jauh sekali namun keduanya tetap yakin akan bertemu lagi diluasnya samudera yang mereka itari. Meski akhirnya mereka bertemu atau tidak namun bagi si kura-kura betina “aku akan tetap menunggu meski entah kau kembali atau tidak” ini dikatakan oleh kura-kura betina untuk kura-kura jantan yang juga memikirkan hal yang sama “aku akan kembali tidak peduli kau masih menanti atau tidak”, Sungguh luar biasa bukan, kura-kura tak hanya tegar, mandiri dan tak mudah putus asa, namun kura-kura juga binatang yang setia.

Selasa, 25 Maret 2014

PUTRI AURORA



by Ayu Humairah
Dulu sekali. Tinggallah sebuah keluarga kecil di sebuah lembah yang indah jauh dari hingar bingar kerlipnya lampu dan cerahnya cahaya. Seorang Ayah, ibu dan Aurora gadis kecil yang sangat lucu, matanya hitam bulat seperti biji buah leci. Ayah aurora adalah seorang pemburu dihutan, sedangkan ibunya sebagai ibu rumah tangga dan kini telah hamil calon adik aurora, Aurora adalah gadis kecil yang baik hati, dia begitu senang akan memiliki adik, meski masih kecil dia begitu senang membantu pekerjaan kedua orang tuanya, aurora rajin sekali membantu ibunya dirumah, membantu mencari kayu bakar sebanyak-banyaknya ketika musim kemarau  dan menyalakan api unggun itu ketika musim salju datang, didaerah tempat tinggal aurora beserta ayah ibunya tinggal memiliki tradisi yang aneh, strata sosial, pembeda antara yang kaya dan yang miskin dilihat dari berapa banyak mereka memiliki api, dan ketika musim salju itu datang maka rumah-rumah itu akan bercahaya dengan api unggun yang dimilikinya, semakin bercahaya rumahnya maka semakin tinggi strata soialnya, semakin kaya pemilik rumah itu jika semakin redup atau bahkan tak ada cahaya dirumah itu maka semakin rendah strata sosial mereka. Dan dilarang bagi siapapun membagi kayu bakar kepada tetangga lainnya, karena menurut kepercayaan mereka, itu akan berakibat musim salju tidak akan pernah usai, sehingga penduduk lembah tidak akan membagi kayu bakar kepada tetangga lainnya.
                Pada suatu musim, tibalah musim salju itu, namun tak seperti biasanya kali ini musim salju berlangsung begitu lama, bahkan lama sekali, hingga persediaan makanan mereka hampir habis, persediaan kayu bakar juga menipis, ikan tak lagi bisa dicari karena air-air membeku, seluruh aktifitas pekerjaan terhenti karena musim salju yang belum tau kapan ujungnya, yang seharusnya sudah musim kemarau namun masih saja salju-salju itu turun, semakin hari cahaya dirumah Aurora semakin redup, dan sebelum benar-benar tak ada cahaya, ayahnya memaksakan diri pergi ke hutan dan mencari apa saja yang bisa diburu dan dibuat makanan. Sedang ayahnya mencari binatang buruan, aurora memaksakan tubuh kecilnya untuk pergi mencari kayu bakar, karena perut ibunya sudah semakin besar, namun nihil hasilnya, aurora pulang hanya dengan tubuh membiru kedinginan tanpa membawa satupun kayu bakar untuk menghangatkan ibunya yang sedang hamil. Dia hanya bisa menunggu ayahnya pulang, berharap membawa sesuatu yang bisa dimakan.
Namun alhasil, sejak tiga hari ayah aurora pergi mencari buruan ayahnya tak kunjung kembali, sampai akhirnya rumahnya benar-benar tak bercahaya, setiap pagi, siang, sore dan malam aurora berdiri di bingkai jendela berharap ayahnya datang, sampai pada akhirnya ibunya sakit karena kedinginan dan tidak makan apapun selama itu, Aurora kebingungan melihat ibunya menggigil kedinginan ditempat tidur, menangis sambil memeluk perut buncit ibunya, berharap adiknya tidak apa-apa karena ibunya belum makan apapun sejak kemarin, aurora berlarian mencari bantuan, keluar dari rumahnya ketika malam itu ibunya benar-benar sudah tidak bisa menahan sakit, wajahnya semakin pucat, badannya semakin menggigil kedinginan, keluarga aurora memang sudah kehabisan kayu bakar untuk menyalakan api unggun. Malam itu tubuh kecil itu kembali berlarian memaksakan tubuhnya mencari bantuan untuk ibunya, meminta sedikit saja pada tetangga yang masih memiliki api unggun, agar ibu dan adiknya bisa diselamatkan.
Namun yang ada, sebagian besar dari mereka malah mengusirnya dengan kasar, membentaknya, menyuruhnya pergi seperti pengemis, bahkan dirumah yang paling bercahaya sekalipun dia tidak mendapatkan kayu bakar itu, Aurora hanya didorong dari rumahnya, jika ada tetangga yang masih berbaik hati padanya, mereka hanya berkata prihatin karena ibunya sedang sakit dan ayahnya tak kunjung pulang, namun tetap tidak memberikan kayu bakar itu, karena pantangan bagi mereka, tradisi adalah tradisi yang tidak bisa ditentang oleh siapapun, aurora tidak mengerti, kenapa tidak ada satupun orang yang membantunya, baginya yang terpenting adalah api unggun supaya bisa menghangatkan tubuh ibunya yang sudah beberapa hari kedinginan, ingin menyelamatkan ibu dan adiknya. Aurora tidak tau tradisi itu, tidak tau kenapa begitu banyak orang yang melempar tubuhnya kepermukaan salju yang dingin itu hanya karena dia meminta sedikit saja kayu bakar, dia tidak mengerti seberharga apa kayu bakar itu bagi mereka, namun bagi aurora hanya kayu bakar itu yang bisa menyelamatkan ibu dan adiknya. Dia tidak mengerti namun dia tetap terus berjalan mencari bantuan untuk ibu dan adiknya, tidak peduli lagi dengan tubuhnya yang semakin kedinginan, semakin membiru.
Namun, meski tak terlewatkan satu rumahpun yang dia datangi untuk dimintai pertolongan, tak ada satupun yang membantunya, membantu ibu dan adiknya, dia pulang dengan menangis di sela-sela badai salju yang entah kenapa turun begitu saja seperti air mata Aurora, dia sedih melihat ibunya kesakitan, melihat ibunya yang terbaring dengan perut buncit yang membiru karena menggigil kedinginan. Saat membuka pintu rumah, rumahnya sudah beberapa hari gelap tanpa cahaya, tanpa api unggun, dan saat takut-takut dia mendatangi ibunya yang mungkin sudah tertidur karena lama menunggunya, dan saat itulah saat cahaya kilat menyambar, dia melihat ibunya yang sudah tidak bernyawa lagi, sudah dingin beberapa waktu yang lalu, saat dia mencari bantuan dan tidak mendapatkannya.
Aurora memeluk perut buncit ibunya, menangis dalam-dalam menyesal karena tidak bisa menyelamatkan ibu dan adiknya, menyelimuti ibunya kembali, mengelus-elus perut ibunya yang buncit, menciuminya, lalu dia pergi. Aurora meninggalkan tempat itu, entah kemana dia pergi, sudah tidak ada ayah ibunya dilembah itu, jadi buat apa dia tetap tinggal di lembah yang entah bagaimana bisa memiliki tradisi yang bisa membunuh ibu dan adik yang dia tunggu-tunggu kelahirannya.
Sampai saat ini tidak ada yang tau dimana aurora berada, dia pergi malam itu juga saat ibunya meninggal. Dan sejak Aurora pergi, setiap musim salju datang maka ada seluet cahaya dari langit yang sangat cerah, seakan-akan tak perlu lagi orang-orang pada zaman itu saling menyombongkan diri dengan api yang dia miliki karena sekarang tak ada bedanya ketika cahaya itu datang maka semua rumah terlihat bercahaya, cahaya yang begitu terang, cahaya itu disebut Cahaya Putri Aurora.
                                                                TAMAT

Minggu, 23 Maret 2014

TIDAK SEMUA BIDADARI ITU CANTIK



By: Ayu Humairah
Konon katanya, di langit ketujuh sana tinggallah bidadari-bidadari surga, wajah mereka sangat cantik, cantik sekali malah. Badan mereka tinggi semampai, senyum mereka hangat sekali dipelupuk mata, harum tubuhnya... Ya Salam, harum tubuhnya tak dapat terungkapkan kata-kata, kulitnya putih bersih bening nan mulus sekali, hingga terlihat tulang betisnya karena sangat beningnya kulit mereka. Mereka adalah bidadari-bidadari surga, yang katanya air liurnya semanis madu, cahaya matanya sebening embun di pagi buta, dan entahlah secantik apa mereka, hingga mulai dari pemuda puber, pemuda tanggung, laki-laki dewasa hingga yang udzur memimpikannya.
Jauh dari langit ketujuh, di bumi yang sudah sangat rewel tidak ada kata tenang, mulai pagi hingga ketemu pagi lagi, mulai malam hingga bertemu malam lagi, hiduplah wanita setengah baya yang akan menjemput azalnya, hatinya gundah gulana, semasa hidupnya hanya dihabiskan bekerja, mengabdi pada orang, tidak kenal lelah, wanita itu gelisah bukan karena semasa hidup dia hanya bekerja saja, mengabdikan diri pada orang lain, bukan itu. tapi karena sampai azalnya akan menjemput tak ada satupun lelaki yang meminangnya.
Namanya Sri, dia terlahir dari orang tua yang tak pernah ia ketahui entah berantahnya, dia hanya gadis dusun yang sederhana, pakainnya sederhana, rambutnya gimbal karena jarang keramas, giginya juga kuning karena entah baru berapa hari sekali dia sikat gigi, namanya sri dia hidup atas belas kasihan seorang tetangga yang mengenalnya, sebagai ucapan terima kasih dia melakukan apapun yang dia bisa lakukan untuk tetangga yang menolongnya meski tak pernah menyekolahkannya, sri tumbuh menjadi seorang pekerja keras, badannya gempal dan kulitnya hitam legam, dia bisa melakukan pekerjaan laki-laki yang lebih dewasa darinya, sri tak pernah mengeluh, meski harus bekerja mati-matian untuk bertahan hidup.
Semasa hidup sri hanya bekerja, hingga kabar baik dari langit itu datang, selalu ada ujungnya perjuangan seseorang, selalu ada batasnya kesulitan seseorang dan selalu ada balasan atas kebaikan seseorang, dan sri mendapatkannya. Hingga Dia menjadi orang kaya didusunnya, semua orang mengenalnya dengan baik sri Juragan beras yang kaya raya, sangat baik dengan karyawannya, dan sangat dermawan terhadap orang-orang yang membutuhkan pertolongannya. Sri begitu mencintai pekerjaannya hingga dia lupa usianya, semakin hari sri semakin galau, karena tak ada satupun pria yang datang untuk melamarnya, dia memang sudah kaya, namun bekas hidup masa susahnya masih melekat padanya, badannya tetap gempal, kulitnya juga masih hitam, hanya rambutnya sudah ada perubahan karena dia memakai jilbab sekarang.
Sri semakin hari semakin menua, wajahnya mulai terlipat oleh keriput, badannya yang gempal juga sudah mulai bongsor dan tak sekuat dulu saat memindahkan karung-karung beras, dia mulai istirahat di kursi dan hanya memantau karyawannya dari jarak dekat, tanpa bisa membantu seperti biasa, meski sri selama ini mrasa dirinya baik-baik saja, namun dia tetap wanita hatinya memang tak pernah bisa sekuat badannya, dia tetap ingin menikah, memiliki suami dan anak-anak yang akan mengisi hari-harinya, namun apalah daya sri. Tetap saja laki-laki memandangnya sebelah mata meskipun dia telah menjadi kaya raya. Saat sri masih muda para pemuda memandangnya dengan tatapan hina, karena sri berbadan besar, kulitnya hitam dan berambut gimbal, saat sri beranjak dewasa para pemuda malah memandangnya seram karena kadang badan mereka kalah besar dibanding sri, saat sri mulai  siap berkeluarga para lelaki juga tetap memangnya dengan tatapan tak berselera, dan terakhir saat sri mulai mapan dengan masa depannya dan kaya raya para lelakipun memilih mundur karena merasa sri akan mengunggulinya jika menikahinya. Ya Tuhan, Begitu kecilkah kau menciptakan hati lelaki sehingga ciut sekali mereka memandang sesuatu yang jauh dibawah mereka atau kadang terlampau tinggi diatas mereka.
Hingga malam itu tiba, sri telah menjemput ajalnya tanpa tau siapa jodohnya, tanpa sempat bertanya takdir Tuhan padanya, dia meninggal dengan senyum tulus dibibirnya tanpa perlu menyesali sedikitpun sesuatu yang selama ini meremehkannya, sri adalah wanita baik yang sederhana baginya hidup cukup saja memberi tanpa harus menerima, baginya orang baik hanya perlu memikirkan apa yang orang lain berikan padanya dan memikirkan bagaimana cara membalasnya tak perlu memikirkan apa yang sudah dia berikan pada orang lain. Dan untuk kedua kalinya, kabar baik dari langit itu datang, jika Malaikat datang berbondong-bondong untuk menjemput istri sholehah yang mendapat ridha dari istrinya, kali ini malaikat datang berbondong-bondong untuk sri meski dia meninggal tanpa ridha dari suaminya.
Sri tertegun dibawa ke tempat yang indah, penuh bunga putih yang entah apa namanya, harumnya sungguh semerbak. Sri memakai gaun yang indah meski itu tidak matching dengan badannya yang besar dan kulitnya yang hitam, dia juga didampingi beberapa gadis-gadis cantik yang entah dari mana asalnya, gadis-gadis itu terus membawa sri ketempat yang lebih tinggi, wajahnya tak kuasa menerba angin yang datang, sri merasa sejuk, hatinya juga damai sekali, para gadis itu tertawa-tawa kecil setelah tau bahwa akan tiba ketempat yang dituju.
Sri dibawa ke tujuh pintu yang didepannya sudah berdiri penjaga surga yang wajahnya sungguh menyenangkan, senyum penyambutan dan penghargaan bagi penghuni surga yang kedatangannya dinanti-nantikan, sri tau ini tempat apa, dia memang tak pandai dalam masalah agama, tapi sri pernah mendengar dari pengajian di masjid dusun bahwa ada tujuh pintu surga bagi orang-orang pilihan, lagi-lagi sri hanya menurut saja ketika seorang dengan wajah menyenangkan itu menunjukkan pintu mana yang harus ia masuki, sri mulai melangkahkan kaki, ada semburat cahaya menyilaukan lalu dia melihat kedamaian didalamnya, melihat betapa tak dapat diungkapkan kebesaran Tuhan, dan sungguh nyata terlihat disana berlarian bidadai-bidadari cantik yang terlihat mengesankan, cantik sekali, hingga sri merasa tak pantas masuk dan berada diantara bidadari-bidadari cantik itu, dia hendak keluar dan ingin menyampaikan kepada orang dengan wajah menyenangkan itu bagaimana dia yang gimbal dan hitam ini berada ditengah-tengah bidadari surga yang cantik jelita, ketika dia mulai berbalik badan dan melewati semburat cahaya yang tadi dilaluinya, suara itu mengagetkannya, mendebarkan hatinya, mengendurkan niatnya untuk keluar, suara itu amat nyaman sekali terdengar, sri membalikkan badannya, memandang sosok gagah nan tampan berdiri didepan matanya, mengulurkan tangan gagahnya, menunjukkan betapa bidangnya dadanya, wajahnya bersih dan sungguh menyenangkan, dia menatap sri dengan tatapan yang tak pernah sri dapatkan sebelumnya, dan sri merasa sangat tersanjung atas apa yang dialaminya sekarang, lalu dia memberikan tangan hitamnya yang terlihat masih kekar, bahkan tangan itu kontras sekali dengan tangan pemuda tampan yang mengulurkan tangannya.
Sri dengan wajah berbinar memberanikan diri bertanya, “siapa kau?”, sedang mereka berjalan beriringan melewati pohon-pohon rindang, semilir angin yang sejuk hari yang tak lagi pagi, malampun juga bukan namun suasana ini mendukung sekali dan entah darimana datangnya pria tampan yang kini sudah menggenggam tangan sri, membuat semua bidadari-bidadari yang berlarian tadi melihat mereka berdua dengan tatapan iri, sungguh bidadari surga akan iri dengan wanita-wanita sholehah meski wajahnya tak secantik mereka, kulitnya tak seputih milikknya, matanya tak sebening milik mereka, lalu pemuda tampan itu berhenti sejenak menatap sri lagi, dan membuat sri semakin berdebar, tak pernah dia diperlakukan sebaik itu semenjak hidup, dan tak pernah melihat pemuda yang lebih tampan dari pemuda yang ada dihadapannya. “aku Bidadaramu Sri, aku adalah orang paling beruntung karena dikirim untukmu mendampingimu selamanya”.
Sri melongoh, apa yang dibilang si tampan ini, ya Salam... dia adalah bidadara dan akan mendampingi sri selamanya, “benarkah?, tapi aku tak sebaik bidadari-bidadari itu dan kenapa kau lebih memilihku?”
“aku adalah yang paling beruntung karena telah bersamamu, bagiku kau lebih dari mereka karena sesuatu yang terpancar dihatimu melebihi cahaya kulit mereka, senyum tulusmu mengalahkan liur madu milik mereka, karena hati mu mengalahkan bening nya mata mereka, kau jauh lebih baik dari wanita-wanita surga itu sri”
TAMAT