Minggu, 23 Maret 2014

TIDAK SEMUA BIDADARI ITU CANTIK



By: Ayu Humairah
Konon katanya, di langit ketujuh sana tinggallah bidadari-bidadari surga, wajah mereka sangat cantik, cantik sekali malah. Badan mereka tinggi semampai, senyum mereka hangat sekali dipelupuk mata, harum tubuhnya... Ya Salam, harum tubuhnya tak dapat terungkapkan kata-kata, kulitnya putih bersih bening nan mulus sekali, hingga terlihat tulang betisnya karena sangat beningnya kulit mereka. Mereka adalah bidadari-bidadari surga, yang katanya air liurnya semanis madu, cahaya matanya sebening embun di pagi buta, dan entahlah secantik apa mereka, hingga mulai dari pemuda puber, pemuda tanggung, laki-laki dewasa hingga yang udzur memimpikannya.
Jauh dari langit ketujuh, di bumi yang sudah sangat rewel tidak ada kata tenang, mulai pagi hingga ketemu pagi lagi, mulai malam hingga bertemu malam lagi, hiduplah wanita setengah baya yang akan menjemput azalnya, hatinya gundah gulana, semasa hidupnya hanya dihabiskan bekerja, mengabdi pada orang, tidak kenal lelah, wanita itu gelisah bukan karena semasa hidup dia hanya bekerja saja, mengabdikan diri pada orang lain, bukan itu. tapi karena sampai azalnya akan menjemput tak ada satupun lelaki yang meminangnya.
Namanya Sri, dia terlahir dari orang tua yang tak pernah ia ketahui entah berantahnya, dia hanya gadis dusun yang sederhana, pakainnya sederhana, rambutnya gimbal karena jarang keramas, giginya juga kuning karena entah baru berapa hari sekali dia sikat gigi, namanya sri dia hidup atas belas kasihan seorang tetangga yang mengenalnya, sebagai ucapan terima kasih dia melakukan apapun yang dia bisa lakukan untuk tetangga yang menolongnya meski tak pernah menyekolahkannya, sri tumbuh menjadi seorang pekerja keras, badannya gempal dan kulitnya hitam legam, dia bisa melakukan pekerjaan laki-laki yang lebih dewasa darinya, sri tak pernah mengeluh, meski harus bekerja mati-matian untuk bertahan hidup.
Semasa hidup sri hanya bekerja, hingga kabar baik dari langit itu datang, selalu ada ujungnya perjuangan seseorang, selalu ada batasnya kesulitan seseorang dan selalu ada balasan atas kebaikan seseorang, dan sri mendapatkannya. Hingga Dia menjadi orang kaya didusunnya, semua orang mengenalnya dengan baik sri Juragan beras yang kaya raya, sangat baik dengan karyawannya, dan sangat dermawan terhadap orang-orang yang membutuhkan pertolongannya. Sri begitu mencintai pekerjaannya hingga dia lupa usianya, semakin hari sri semakin galau, karena tak ada satupun pria yang datang untuk melamarnya, dia memang sudah kaya, namun bekas hidup masa susahnya masih melekat padanya, badannya tetap gempal, kulitnya juga masih hitam, hanya rambutnya sudah ada perubahan karena dia memakai jilbab sekarang.
Sri semakin hari semakin menua, wajahnya mulai terlipat oleh keriput, badannya yang gempal juga sudah mulai bongsor dan tak sekuat dulu saat memindahkan karung-karung beras, dia mulai istirahat di kursi dan hanya memantau karyawannya dari jarak dekat, tanpa bisa membantu seperti biasa, meski sri selama ini mrasa dirinya baik-baik saja, namun dia tetap wanita hatinya memang tak pernah bisa sekuat badannya, dia tetap ingin menikah, memiliki suami dan anak-anak yang akan mengisi hari-harinya, namun apalah daya sri. Tetap saja laki-laki memandangnya sebelah mata meskipun dia telah menjadi kaya raya. Saat sri masih muda para pemuda memandangnya dengan tatapan hina, karena sri berbadan besar, kulitnya hitam dan berambut gimbal, saat sri beranjak dewasa para pemuda malah memandangnya seram karena kadang badan mereka kalah besar dibanding sri, saat sri mulai  siap berkeluarga para lelaki juga tetap memangnya dengan tatapan tak berselera, dan terakhir saat sri mulai mapan dengan masa depannya dan kaya raya para lelakipun memilih mundur karena merasa sri akan mengunggulinya jika menikahinya. Ya Tuhan, Begitu kecilkah kau menciptakan hati lelaki sehingga ciut sekali mereka memandang sesuatu yang jauh dibawah mereka atau kadang terlampau tinggi diatas mereka.
Hingga malam itu tiba, sri telah menjemput ajalnya tanpa tau siapa jodohnya, tanpa sempat bertanya takdir Tuhan padanya, dia meninggal dengan senyum tulus dibibirnya tanpa perlu menyesali sedikitpun sesuatu yang selama ini meremehkannya, sri adalah wanita baik yang sederhana baginya hidup cukup saja memberi tanpa harus menerima, baginya orang baik hanya perlu memikirkan apa yang orang lain berikan padanya dan memikirkan bagaimana cara membalasnya tak perlu memikirkan apa yang sudah dia berikan pada orang lain. Dan untuk kedua kalinya, kabar baik dari langit itu datang, jika Malaikat datang berbondong-bondong untuk menjemput istri sholehah yang mendapat ridha dari istrinya, kali ini malaikat datang berbondong-bondong untuk sri meski dia meninggal tanpa ridha dari suaminya.
Sri tertegun dibawa ke tempat yang indah, penuh bunga putih yang entah apa namanya, harumnya sungguh semerbak. Sri memakai gaun yang indah meski itu tidak matching dengan badannya yang besar dan kulitnya yang hitam, dia juga didampingi beberapa gadis-gadis cantik yang entah dari mana asalnya, gadis-gadis itu terus membawa sri ketempat yang lebih tinggi, wajahnya tak kuasa menerba angin yang datang, sri merasa sejuk, hatinya juga damai sekali, para gadis itu tertawa-tawa kecil setelah tau bahwa akan tiba ketempat yang dituju.
Sri dibawa ke tujuh pintu yang didepannya sudah berdiri penjaga surga yang wajahnya sungguh menyenangkan, senyum penyambutan dan penghargaan bagi penghuni surga yang kedatangannya dinanti-nantikan, sri tau ini tempat apa, dia memang tak pandai dalam masalah agama, tapi sri pernah mendengar dari pengajian di masjid dusun bahwa ada tujuh pintu surga bagi orang-orang pilihan, lagi-lagi sri hanya menurut saja ketika seorang dengan wajah menyenangkan itu menunjukkan pintu mana yang harus ia masuki, sri mulai melangkahkan kaki, ada semburat cahaya menyilaukan lalu dia melihat kedamaian didalamnya, melihat betapa tak dapat diungkapkan kebesaran Tuhan, dan sungguh nyata terlihat disana berlarian bidadai-bidadari cantik yang terlihat mengesankan, cantik sekali, hingga sri merasa tak pantas masuk dan berada diantara bidadari-bidadari cantik itu, dia hendak keluar dan ingin menyampaikan kepada orang dengan wajah menyenangkan itu bagaimana dia yang gimbal dan hitam ini berada ditengah-tengah bidadari surga yang cantik jelita, ketika dia mulai berbalik badan dan melewati semburat cahaya yang tadi dilaluinya, suara itu mengagetkannya, mendebarkan hatinya, mengendurkan niatnya untuk keluar, suara itu amat nyaman sekali terdengar, sri membalikkan badannya, memandang sosok gagah nan tampan berdiri didepan matanya, mengulurkan tangan gagahnya, menunjukkan betapa bidangnya dadanya, wajahnya bersih dan sungguh menyenangkan, dia menatap sri dengan tatapan yang tak pernah sri dapatkan sebelumnya, dan sri merasa sangat tersanjung atas apa yang dialaminya sekarang, lalu dia memberikan tangan hitamnya yang terlihat masih kekar, bahkan tangan itu kontras sekali dengan tangan pemuda tampan yang mengulurkan tangannya.
Sri dengan wajah berbinar memberanikan diri bertanya, “siapa kau?”, sedang mereka berjalan beriringan melewati pohon-pohon rindang, semilir angin yang sejuk hari yang tak lagi pagi, malampun juga bukan namun suasana ini mendukung sekali dan entah darimana datangnya pria tampan yang kini sudah menggenggam tangan sri, membuat semua bidadari-bidadari yang berlarian tadi melihat mereka berdua dengan tatapan iri, sungguh bidadari surga akan iri dengan wanita-wanita sholehah meski wajahnya tak secantik mereka, kulitnya tak seputih milikknya, matanya tak sebening milik mereka, lalu pemuda tampan itu berhenti sejenak menatap sri lagi, dan membuat sri semakin berdebar, tak pernah dia diperlakukan sebaik itu semenjak hidup, dan tak pernah melihat pemuda yang lebih tampan dari pemuda yang ada dihadapannya. “aku Bidadaramu Sri, aku adalah orang paling beruntung karena dikirim untukmu mendampingimu selamanya”.
Sri melongoh, apa yang dibilang si tampan ini, ya Salam... dia adalah bidadara dan akan mendampingi sri selamanya, “benarkah?, tapi aku tak sebaik bidadari-bidadari itu dan kenapa kau lebih memilihku?”
“aku adalah yang paling beruntung karena telah bersamamu, bagiku kau lebih dari mereka karena sesuatu yang terpancar dihatimu melebihi cahaya kulit mereka, senyum tulusmu mengalahkan liur madu milik mereka, karena hati mu mengalahkan bening nya mata mereka, kau jauh lebih baik dari wanita-wanita surga itu sri”
TAMAT


Tidak ada komentar:

Posting Komentar