By: Ayu Humairah
Konon katanya, di langit ketujuh sana
tinggallah bidadari-bidadari surga, wajah mereka sangat cantik, cantik sekali
malah. Badan mereka tinggi semampai, senyum mereka hangat sekali dipelupuk
mata, harum tubuhnya... Ya Salam, harum tubuhnya tak dapat terungkapkan
kata-kata, kulitnya putih bersih bening nan mulus sekali, hingga terlihat
tulang betisnya karena sangat beningnya kulit mereka. Mereka adalah
bidadari-bidadari surga, yang katanya air liurnya semanis madu, cahaya matanya
sebening embun di pagi buta, dan entahlah secantik apa mereka, hingga mulai
dari pemuda puber, pemuda tanggung, laki-laki dewasa hingga yang udzur
memimpikannya.
Jauh dari langit ketujuh, di bumi yang
sudah sangat rewel tidak ada kata tenang, mulai pagi hingga ketemu pagi lagi,
mulai malam hingga bertemu malam lagi, hiduplah wanita setengah baya yang akan
menjemput azalnya, hatinya gundah gulana, semasa hidupnya hanya dihabiskan
bekerja, mengabdi pada orang, tidak kenal lelah, wanita itu gelisah bukan
karena semasa hidup dia hanya bekerja saja, mengabdikan diri pada orang lain, bukan
itu. tapi karena sampai azalnya akan menjemput tak ada satupun lelaki yang
meminangnya.
Namanya Sri, dia terlahir dari orang tua
yang tak pernah ia ketahui entah berantahnya, dia hanya gadis dusun yang
sederhana, pakainnya sederhana, rambutnya gimbal karena jarang keramas, giginya
juga kuning karena entah baru berapa hari sekali dia sikat gigi, namanya sri
dia hidup atas belas kasihan seorang tetangga yang mengenalnya, sebagai ucapan
terima kasih dia melakukan apapun yang dia bisa lakukan untuk tetangga yang
menolongnya meski tak pernah menyekolahkannya, sri tumbuh menjadi seorang
pekerja keras, badannya gempal dan kulitnya hitam legam, dia bisa melakukan pekerjaan
laki-laki yang lebih dewasa darinya, sri tak pernah mengeluh, meski harus
bekerja mati-matian untuk bertahan hidup.
Semasa hidup sri hanya bekerja, hingga
kabar baik dari langit itu datang, selalu ada ujungnya perjuangan seseorang,
selalu ada batasnya kesulitan seseorang dan selalu ada balasan atas kebaikan
seseorang, dan sri mendapatkannya. Hingga Dia menjadi orang kaya didusunnya,
semua orang mengenalnya dengan baik sri Juragan beras yang kaya raya, sangat
baik dengan karyawannya, dan sangat dermawan terhadap orang-orang yang
membutuhkan pertolongannya. Sri begitu mencintai pekerjaannya hingga dia lupa
usianya, semakin hari sri semakin galau, karena tak ada satupun pria yang
datang untuk melamarnya, dia memang sudah kaya, namun bekas hidup masa susahnya
masih melekat padanya, badannya tetap gempal, kulitnya juga masih hitam, hanya
rambutnya sudah ada perubahan karena dia memakai jilbab sekarang.
Sri semakin hari semakin menua, wajahnya
mulai terlipat oleh keriput, badannya yang gempal juga sudah mulai bongsor dan
tak sekuat dulu saat memindahkan karung-karung beras, dia mulai istirahat di
kursi dan hanya memantau karyawannya dari jarak dekat, tanpa bisa membantu
seperti biasa, meski sri selama ini mrasa dirinya baik-baik saja, namun dia
tetap wanita hatinya memang tak pernah bisa sekuat badannya, dia tetap ingin
menikah, memiliki suami dan anak-anak yang akan mengisi hari-harinya, namun apalah
daya sri. Tetap saja laki-laki memandangnya sebelah mata meskipun dia telah
menjadi kaya raya. Saat sri masih muda para pemuda memandangnya dengan tatapan
hina, karena sri berbadan besar, kulitnya hitam dan berambut gimbal, saat sri
beranjak dewasa para pemuda malah memandangnya seram karena kadang badan mereka
kalah besar dibanding sri, saat sri mulai
siap berkeluarga para lelaki juga tetap memangnya dengan tatapan tak
berselera, dan terakhir saat sri mulai mapan dengan masa depannya dan kaya raya
para lelakipun memilih mundur karena merasa sri akan mengunggulinya jika
menikahinya. Ya Tuhan, Begitu kecilkah kau menciptakan hati lelaki sehingga
ciut sekali mereka memandang sesuatu yang jauh dibawah mereka atau kadang
terlampau tinggi diatas mereka.
Hingga malam itu tiba, sri telah menjemput
ajalnya tanpa tau siapa jodohnya, tanpa sempat bertanya takdir Tuhan padanya,
dia meninggal dengan senyum tulus dibibirnya tanpa perlu menyesali sedikitpun
sesuatu yang selama ini meremehkannya, sri adalah wanita baik yang sederhana
baginya hidup cukup saja memberi tanpa harus menerima, baginya orang baik hanya
perlu memikirkan apa yang orang lain berikan padanya dan memikirkan bagaimana
cara membalasnya tak perlu memikirkan apa yang sudah dia berikan pada orang
lain. Dan untuk kedua kalinya, kabar baik dari langit itu datang, jika Malaikat
datang berbondong-bondong untuk menjemput istri sholehah yang mendapat ridha
dari istrinya, kali ini malaikat datang berbondong-bondong untuk sri meski dia
meninggal tanpa ridha dari suaminya.
Sri tertegun dibawa ke tempat yang indah,
penuh bunga putih yang entah apa namanya, harumnya sungguh semerbak. Sri
memakai gaun yang indah meski itu tidak matching dengan badannya yang besar dan
kulitnya yang hitam, dia juga didampingi beberapa gadis-gadis cantik yang entah
dari mana asalnya, gadis-gadis itu terus membawa sri ketempat yang lebih tinggi,
wajahnya tak kuasa menerba angin yang datang, sri merasa sejuk, hatinya juga
damai sekali, para gadis itu tertawa-tawa kecil setelah tau bahwa akan tiba
ketempat yang dituju.
Sri dibawa ke tujuh pintu yang didepannya
sudah berdiri penjaga surga yang wajahnya sungguh menyenangkan, senyum
penyambutan dan penghargaan bagi penghuni surga yang kedatangannya
dinanti-nantikan, sri tau ini tempat apa, dia memang tak pandai dalam masalah
agama, tapi sri pernah mendengar dari pengajian di masjid dusun bahwa ada tujuh
pintu surga bagi orang-orang pilihan, lagi-lagi sri hanya menurut saja ketika
seorang dengan wajah menyenangkan itu menunjukkan pintu mana yang harus ia
masuki, sri mulai melangkahkan kaki, ada semburat cahaya menyilaukan lalu dia
melihat kedamaian didalamnya, melihat betapa tak dapat diungkapkan kebesaran
Tuhan, dan sungguh nyata terlihat disana berlarian bidadai-bidadari cantik yang
terlihat mengesankan, cantik sekali, hingga sri merasa tak pantas masuk dan
berada diantara bidadari-bidadari cantik itu, dia hendak keluar dan ingin
menyampaikan kepada orang dengan wajah menyenangkan itu bagaimana dia yang
gimbal dan hitam ini berada ditengah-tengah bidadari surga yang cantik jelita,
ketika dia mulai berbalik badan dan melewati semburat cahaya yang tadi dilaluinya,
suara itu mengagetkannya, mendebarkan hatinya, mengendurkan niatnya untuk
keluar, suara itu amat nyaman sekali terdengar, sri membalikkan badannya,
memandang sosok gagah nan tampan berdiri didepan matanya, mengulurkan tangan
gagahnya, menunjukkan betapa bidangnya dadanya, wajahnya bersih dan sungguh
menyenangkan, dia menatap sri dengan tatapan yang tak pernah sri dapatkan
sebelumnya, dan sri merasa sangat tersanjung atas apa yang dialaminya sekarang,
lalu dia memberikan tangan hitamnya yang terlihat masih kekar, bahkan tangan
itu kontras sekali dengan tangan pemuda tampan yang mengulurkan tangannya.
Sri dengan wajah berbinar memberanikan diri
bertanya, “siapa kau?”, sedang mereka berjalan beriringan melewati pohon-pohon
rindang, semilir angin yang sejuk hari yang tak lagi pagi, malampun juga bukan
namun suasana ini mendukung sekali dan entah darimana datangnya pria tampan
yang kini sudah menggenggam tangan sri, membuat semua bidadari-bidadari yang
berlarian tadi melihat mereka berdua dengan tatapan iri, sungguh bidadari surga
akan iri dengan wanita-wanita sholehah meski wajahnya tak secantik mereka,
kulitnya tak seputih milikknya, matanya tak sebening milik mereka, lalu pemuda
tampan itu berhenti sejenak menatap sri lagi, dan membuat sri semakin berdebar,
tak pernah dia diperlakukan sebaik itu semenjak hidup, dan tak pernah melihat
pemuda yang lebih tampan dari pemuda yang ada dihadapannya. “aku Bidadaramu
Sri, aku adalah orang paling beruntung karena dikirim untukmu mendampingimu
selamanya”.
Sri melongoh, apa yang dibilang si tampan
ini, ya Salam... dia adalah bidadara dan akan mendampingi sri selamanya,
“benarkah?, tapi aku tak sebaik bidadari-bidadari itu dan kenapa kau lebih
memilihku?”
“aku adalah yang paling beruntung karena
telah bersamamu, bagiku kau lebih dari mereka karena sesuatu yang terpancar
dihatimu melebihi cahaya kulit mereka, senyum tulusmu mengalahkan liur madu
milik mereka, karena hati mu mengalahkan bening nya mata mereka, kau jauh lebih
baik dari wanita-wanita surga itu sri”
TAMAT
Tidak ada komentar:
Posting Komentar