by Ayu Humairah
Dulu
sekali. Tinggallah sebuah keluarga kecil di sebuah lembah yang indah jauh dari
hingar bingar kerlipnya lampu dan cerahnya cahaya. Seorang Ayah, ibu dan Aurora
gadis kecil yang sangat lucu, matanya hitam bulat seperti biji buah leci. Ayah
aurora adalah seorang pemburu dihutan, sedangkan ibunya sebagai ibu rumah
tangga dan kini telah hamil calon adik aurora, Aurora adalah gadis kecil yang
baik hati, dia begitu senang akan memiliki adik, meski masih kecil dia begitu
senang membantu pekerjaan kedua orang tuanya, aurora rajin sekali membantu
ibunya dirumah, membantu mencari kayu bakar sebanyak-banyaknya ketika musim
kemarau dan menyalakan api unggun itu
ketika musim salju datang, didaerah tempat tinggal aurora beserta ayah ibunya
tinggal memiliki tradisi yang aneh, strata sosial, pembeda antara yang kaya dan
yang miskin dilihat dari berapa banyak mereka memiliki api, dan ketika musim
salju itu datang maka rumah-rumah itu akan bercahaya dengan api unggun yang
dimilikinya, semakin bercahaya rumahnya maka semakin tinggi strata soialnya,
semakin kaya pemilik rumah itu jika semakin redup atau bahkan tak ada cahaya
dirumah itu maka semakin rendah strata sosial mereka. Dan dilarang bagi
siapapun membagi kayu bakar kepada tetangga lainnya, karena menurut kepercayaan
mereka, itu akan berakibat musim salju tidak akan pernah usai, sehingga
penduduk lembah tidak akan membagi kayu bakar kepada tetangga lainnya.
Pada suatu musim, tibalah musim
salju itu, namun tak seperti biasanya kali ini musim salju berlangsung begitu
lama, bahkan lama sekali, hingga persediaan makanan mereka hampir habis,
persediaan kayu bakar juga menipis, ikan tak lagi bisa dicari karena air-air
membeku, seluruh aktifitas pekerjaan terhenti karena musim salju yang belum tau
kapan ujungnya, yang seharusnya sudah musim kemarau namun masih saja
salju-salju itu turun, semakin hari cahaya dirumah Aurora semakin redup, dan
sebelum benar-benar tak ada cahaya, ayahnya memaksakan diri pergi ke hutan dan
mencari apa saja yang bisa diburu dan dibuat makanan. Sedang ayahnya mencari
binatang buruan, aurora memaksakan tubuh kecilnya untuk pergi mencari kayu
bakar, karena perut ibunya sudah semakin besar, namun nihil hasilnya, aurora
pulang hanya dengan tubuh membiru kedinginan tanpa membawa satupun kayu bakar
untuk menghangatkan ibunya yang sedang hamil. Dia hanya bisa menunggu ayahnya
pulang, berharap membawa sesuatu yang bisa dimakan.
Namun
alhasil, sejak tiga hari ayah aurora pergi mencari buruan ayahnya tak kunjung
kembali, sampai akhirnya rumahnya benar-benar tak bercahaya, setiap pagi,
siang, sore dan malam aurora berdiri di bingkai jendela berharap ayahnya
datang, sampai pada akhirnya ibunya sakit karena kedinginan dan tidak makan
apapun selama itu, Aurora kebingungan melihat ibunya menggigil kedinginan
ditempat tidur, menangis sambil memeluk perut buncit ibunya, berharap adiknya
tidak apa-apa karena ibunya belum makan apapun sejak kemarin, aurora berlarian
mencari bantuan, keluar dari rumahnya ketika malam itu ibunya benar-benar sudah
tidak bisa menahan sakit, wajahnya semakin pucat, badannya semakin menggigil
kedinginan, keluarga aurora memang sudah kehabisan kayu bakar untuk menyalakan
api unggun. Malam itu tubuh kecil itu kembali berlarian memaksakan tubuhnya
mencari bantuan untuk ibunya, meminta sedikit saja pada tetangga yang masih
memiliki api unggun, agar ibu dan adiknya bisa diselamatkan.
Namun
yang ada, sebagian besar dari mereka malah mengusirnya dengan kasar,
membentaknya, menyuruhnya pergi seperti pengemis, bahkan dirumah yang paling
bercahaya sekalipun dia tidak mendapatkan kayu bakar itu, Aurora hanya didorong
dari rumahnya, jika ada tetangga yang masih berbaik hati padanya, mereka hanya
berkata prihatin karena ibunya sedang sakit dan ayahnya tak kunjung pulang,
namun tetap tidak memberikan kayu bakar itu, karena pantangan bagi mereka,
tradisi adalah tradisi yang tidak bisa ditentang oleh siapapun, aurora tidak
mengerti, kenapa tidak ada satupun orang yang membantunya, baginya yang
terpenting adalah api unggun supaya bisa menghangatkan tubuh ibunya yang sudah
beberapa hari kedinginan, ingin menyelamatkan ibu dan adiknya. Aurora tidak tau
tradisi itu, tidak tau kenapa begitu banyak orang yang melempar tubuhnya
kepermukaan salju yang dingin itu hanya karena dia meminta sedikit saja kayu
bakar, dia tidak mengerti seberharga apa kayu bakar itu bagi mereka, namun bagi
aurora hanya kayu bakar itu yang bisa menyelamatkan ibu dan adiknya. Dia tidak
mengerti namun dia tetap terus berjalan mencari bantuan untuk ibu dan adiknya,
tidak peduli lagi dengan tubuhnya yang semakin kedinginan, semakin membiru.
Namun,
meski tak terlewatkan satu rumahpun yang dia datangi untuk dimintai
pertolongan, tak ada satupun yang membantunya, membantu ibu dan adiknya, dia
pulang dengan menangis di sela-sela badai salju yang entah kenapa turun begitu
saja seperti air mata Aurora, dia sedih melihat ibunya kesakitan, melihat
ibunya yang terbaring dengan perut buncit yang membiru karena menggigil
kedinginan. Saat membuka pintu rumah, rumahnya sudah beberapa hari gelap tanpa cahaya,
tanpa api unggun, dan saat takut-takut dia mendatangi ibunya yang mungkin sudah
tertidur karena lama menunggunya, dan saat itulah saat cahaya kilat menyambar,
dia melihat ibunya yang sudah tidak bernyawa lagi, sudah dingin beberapa waktu
yang lalu, saat dia mencari bantuan dan tidak mendapatkannya.
Aurora
memeluk perut buncit ibunya, menangis dalam-dalam menyesal karena tidak bisa
menyelamatkan ibu dan adiknya, menyelimuti ibunya kembali, mengelus-elus perut
ibunya yang buncit, menciuminya, lalu dia pergi. Aurora meninggalkan tempat itu,
entah kemana dia pergi, sudah tidak ada ayah ibunya dilembah itu, jadi buat apa
dia tetap tinggal di lembah yang entah bagaimana bisa memiliki tradisi yang
bisa membunuh ibu dan adik yang dia tunggu-tunggu kelahirannya.
Sampai
saat ini tidak ada yang tau dimana aurora berada, dia pergi malam itu juga saat
ibunya meninggal. Dan sejak Aurora pergi, setiap musim salju datang maka ada
seluet cahaya dari langit yang sangat cerah, seakan-akan tak perlu lagi
orang-orang pada zaman itu saling menyombongkan diri dengan api yang dia miliki
karena sekarang tak ada bedanya ketika cahaya itu datang maka semua rumah
terlihat bercahaya, cahaya yang begitu terang, cahaya itu disebut Cahaya Putri
Aurora.
TAMAT
Tidak ada komentar:
Posting Komentar