Selasa, 25 Maret 2014

PUTRI AURORA



by Ayu Humairah
Dulu sekali. Tinggallah sebuah keluarga kecil di sebuah lembah yang indah jauh dari hingar bingar kerlipnya lampu dan cerahnya cahaya. Seorang Ayah, ibu dan Aurora gadis kecil yang sangat lucu, matanya hitam bulat seperti biji buah leci. Ayah aurora adalah seorang pemburu dihutan, sedangkan ibunya sebagai ibu rumah tangga dan kini telah hamil calon adik aurora, Aurora adalah gadis kecil yang baik hati, dia begitu senang akan memiliki adik, meski masih kecil dia begitu senang membantu pekerjaan kedua orang tuanya, aurora rajin sekali membantu ibunya dirumah, membantu mencari kayu bakar sebanyak-banyaknya ketika musim kemarau  dan menyalakan api unggun itu ketika musim salju datang, didaerah tempat tinggal aurora beserta ayah ibunya tinggal memiliki tradisi yang aneh, strata sosial, pembeda antara yang kaya dan yang miskin dilihat dari berapa banyak mereka memiliki api, dan ketika musim salju itu datang maka rumah-rumah itu akan bercahaya dengan api unggun yang dimilikinya, semakin bercahaya rumahnya maka semakin tinggi strata soialnya, semakin kaya pemilik rumah itu jika semakin redup atau bahkan tak ada cahaya dirumah itu maka semakin rendah strata sosial mereka. Dan dilarang bagi siapapun membagi kayu bakar kepada tetangga lainnya, karena menurut kepercayaan mereka, itu akan berakibat musim salju tidak akan pernah usai, sehingga penduduk lembah tidak akan membagi kayu bakar kepada tetangga lainnya.
                Pada suatu musim, tibalah musim salju itu, namun tak seperti biasanya kali ini musim salju berlangsung begitu lama, bahkan lama sekali, hingga persediaan makanan mereka hampir habis, persediaan kayu bakar juga menipis, ikan tak lagi bisa dicari karena air-air membeku, seluruh aktifitas pekerjaan terhenti karena musim salju yang belum tau kapan ujungnya, yang seharusnya sudah musim kemarau namun masih saja salju-salju itu turun, semakin hari cahaya dirumah Aurora semakin redup, dan sebelum benar-benar tak ada cahaya, ayahnya memaksakan diri pergi ke hutan dan mencari apa saja yang bisa diburu dan dibuat makanan. Sedang ayahnya mencari binatang buruan, aurora memaksakan tubuh kecilnya untuk pergi mencari kayu bakar, karena perut ibunya sudah semakin besar, namun nihil hasilnya, aurora pulang hanya dengan tubuh membiru kedinginan tanpa membawa satupun kayu bakar untuk menghangatkan ibunya yang sedang hamil. Dia hanya bisa menunggu ayahnya pulang, berharap membawa sesuatu yang bisa dimakan.
Namun alhasil, sejak tiga hari ayah aurora pergi mencari buruan ayahnya tak kunjung kembali, sampai akhirnya rumahnya benar-benar tak bercahaya, setiap pagi, siang, sore dan malam aurora berdiri di bingkai jendela berharap ayahnya datang, sampai pada akhirnya ibunya sakit karena kedinginan dan tidak makan apapun selama itu, Aurora kebingungan melihat ibunya menggigil kedinginan ditempat tidur, menangis sambil memeluk perut buncit ibunya, berharap adiknya tidak apa-apa karena ibunya belum makan apapun sejak kemarin, aurora berlarian mencari bantuan, keluar dari rumahnya ketika malam itu ibunya benar-benar sudah tidak bisa menahan sakit, wajahnya semakin pucat, badannya semakin menggigil kedinginan, keluarga aurora memang sudah kehabisan kayu bakar untuk menyalakan api unggun. Malam itu tubuh kecil itu kembali berlarian memaksakan tubuhnya mencari bantuan untuk ibunya, meminta sedikit saja pada tetangga yang masih memiliki api unggun, agar ibu dan adiknya bisa diselamatkan.
Namun yang ada, sebagian besar dari mereka malah mengusirnya dengan kasar, membentaknya, menyuruhnya pergi seperti pengemis, bahkan dirumah yang paling bercahaya sekalipun dia tidak mendapatkan kayu bakar itu, Aurora hanya didorong dari rumahnya, jika ada tetangga yang masih berbaik hati padanya, mereka hanya berkata prihatin karena ibunya sedang sakit dan ayahnya tak kunjung pulang, namun tetap tidak memberikan kayu bakar itu, karena pantangan bagi mereka, tradisi adalah tradisi yang tidak bisa ditentang oleh siapapun, aurora tidak mengerti, kenapa tidak ada satupun orang yang membantunya, baginya yang terpenting adalah api unggun supaya bisa menghangatkan tubuh ibunya yang sudah beberapa hari kedinginan, ingin menyelamatkan ibu dan adiknya. Aurora tidak tau tradisi itu, tidak tau kenapa begitu banyak orang yang melempar tubuhnya kepermukaan salju yang dingin itu hanya karena dia meminta sedikit saja kayu bakar, dia tidak mengerti seberharga apa kayu bakar itu bagi mereka, namun bagi aurora hanya kayu bakar itu yang bisa menyelamatkan ibu dan adiknya. Dia tidak mengerti namun dia tetap terus berjalan mencari bantuan untuk ibu dan adiknya, tidak peduli lagi dengan tubuhnya yang semakin kedinginan, semakin membiru.
Namun, meski tak terlewatkan satu rumahpun yang dia datangi untuk dimintai pertolongan, tak ada satupun yang membantunya, membantu ibu dan adiknya, dia pulang dengan menangis di sela-sela badai salju yang entah kenapa turun begitu saja seperti air mata Aurora, dia sedih melihat ibunya kesakitan, melihat ibunya yang terbaring dengan perut buncit yang membiru karena menggigil kedinginan. Saat membuka pintu rumah, rumahnya sudah beberapa hari gelap tanpa cahaya, tanpa api unggun, dan saat takut-takut dia mendatangi ibunya yang mungkin sudah tertidur karena lama menunggunya, dan saat itulah saat cahaya kilat menyambar, dia melihat ibunya yang sudah tidak bernyawa lagi, sudah dingin beberapa waktu yang lalu, saat dia mencari bantuan dan tidak mendapatkannya.
Aurora memeluk perut buncit ibunya, menangis dalam-dalam menyesal karena tidak bisa menyelamatkan ibu dan adiknya, menyelimuti ibunya kembali, mengelus-elus perut ibunya yang buncit, menciuminya, lalu dia pergi. Aurora meninggalkan tempat itu, entah kemana dia pergi, sudah tidak ada ayah ibunya dilembah itu, jadi buat apa dia tetap tinggal di lembah yang entah bagaimana bisa memiliki tradisi yang bisa membunuh ibu dan adik yang dia tunggu-tunggu kelahirannya.
Sampai saat ini tidak ada yang tau dimana aurora berada, dia pergi malam itu juga saat ibunya meninggal. Dan sejak Aurora pergi, setiap musim salju datang maka ada seluet cahaya dari langit yang sangat cerah, seakan-akan tak perlu lagi orang-orang pada zaman itu saling menyombongkan diri dengan api yang dia miliki karena sekarang tak ada bedanya ketika cahaya itu datang maka semua rumah terlihat bercahaya, cahaya yang begitu terang, cahaya itu disebut Cahaya Putri Aurora.
                                                                TAMAT

Tidak ada komentar:

Posting Komentar