By: Ayu Humairah
Duhai cantik sekali si capung biru, matanya
bulat memancarkan cahaya tersendiri, tubuhnya lentik bagai jarum tenun nan
anggun ketika berjalan. Berjalan?, ya Tuhan si capung biru yang begitu anggun
itu ternyata tak memiliki sepasang sayap, dia hanya memiliki satu sayap indah
berwarna biru, dia tak pernah terbang sejak masih bayi capung dia hanya bisa
berjalan, berjalan memandang teman-temannya yang sedang asyik terbang dengan
sepasang sayap indahnya.
Hingga tumbuh menjadi cabung dewasa ia
tetap berjalan, sungguh bukan urusan kita tapi urusan Tuhan kenapa si capung
bisa cacat, dan hidup hingga dewasa dengan kekurangannya, dia tak hanya
kesulitan mencari makan tapi juga tak punya teman, teman-temannya malas
berteman dengan capung biru karena sejak bayi dia tak bisa terbang, malang nian
nasib si capung biru, dia bahkan tak pernah melihat keindahahan alam di atas
awan, memandang kelokan sungai dengan sayap indahnya. Sejak bayi dia menjadi
bayi capung yang malang karena tinggal ditempat yang sama sulit sekali baginya
untuk berpindah ketempat yang lebih jauh.
Pada suatu hari, capung biru bertemu dengan
seekor kadal dengan badan gempal dan wajah yang menyeramkan, sebentar-sebentar
menjulurkan lidahnya seakan-akan sedang kelaparan, si capung biru ketakutan,
badanya yang berwarna biru memang mudah sekali ditemukan si pemangsa, sedang si
capung biru berusaha menyelamatkan diri meski secepat apapun dia berlari tak
terbayangkan betapa cepat sekali si kadal itu menyambar-nyambar tak sulit bagi
si kadal untuk berlari lebih cepat, namun dia ingin mempermainkan capung biru terlebih
dahulu sebelum menerkamnya.
Sedangkan si capung biru berlari lebih
cepat lagi dengan ngos-ngosan, wajahnya pucat berkeringat basah, dan kadal
semakin bringas dan tertawa lebar-lebar. Dalam hatinya, si capung biru
ketakutan, mencicit kebingungan meminta pertolongan pada siapapun. Baginya
meski hidupnya tak pernah beruntung karena selama hidup belum pernah merasakan
terbang layaknya capung yang lainnya namun dia msih ingin hidup, capung biru
tetap berlari tubuhnya jatuh berdebam, bangun lagi, terjatuh lagi dan berdebam
untuk kedua kali, ketiga kali, tertawa si kadal menertawakan si capung biru,
namun akhirnya pertolongan itu datang, seekor capung dengan gagah menghadang si
kadal, menolong si capung biru yang mulai menyerah.
“Hai siapa kau?, apa kau ingin ku makan juga sama dengan
capung biru itu?”, kata kadal.
“hei...kadal bodoh, apa kau tak tau, kami bangsa capung
memiliki rasa yang tak enak, badan kami rata-rata kurus tak ada dagingnya.”
Kata capung gagah.
Membuat kadal berfikir sejenak, “apa maksudmu?, aku memang
kadal yang tak pernah makan capung, tapi menurut teman-temanku bangsa capung
enak sekali untuk dimakan.”
“hei... kadal, ternyata kau memang benar-benar bodoh, teman-temanmu
tak memakan kami, tapi mereka memakan kembaran kami, tubuhnya lebih gempal dan
berdaging, kau akan menyukainya.”
“benarkah?, apa itu?. Kata si kadal penasaran,
“julurkan lidahmu kadal bodoh, maka akan ku berikan makanan
yang ku janjikan kepadamu.”
“baiklah kalau begitu.” Kemudian si kadal mulai menjulurkan
lidahnya, lalu si capung gagah melempar seekor kumbang ke arah mulut kadal,
seketika kadal kesakitan karena di sengat, melhat kadal kesakitan capung gagah
mengajak cabung biru pergi, namun alangkah disayang si capung biru tak bisa
terbang seperti dirinya. Hingga capung gagah menemaninya berlari disepanjang
jalan untuk menyelamatkan diri. Konon katanya, si capung gagah adalah
satu-satunya capung yang paling banyak mengelilingi tempat dengan sayapnya, dia
juga capung yang gagah nan tampan didunia capung.
Si capung biru sangat indah, meski dia
cacat namun dia tetap lebih indah jika dibandingkan capung yang lain, dia juga
baik hati. Hingga akhirnya capung gagah jatuh cinta padanya, meski capung gagah
telah lama mengelilingi banyak tempat namun dia tak pernah melihat capung
cantik yang baik hatinya, lalu mereka menikah, ceritanya tidak selesai sampai
disini meski akhirnya mereka hidup bahagia.
Saat si capung biru hamil, dan capung gagah
mencari makanan terdegar kabar bahwa capung gagah telah dimangsa oleh kadal
yang dulu pernah ditipunya, capung gagah sudah terluka parah saat capung biru
datang padanya, capung gagah ditiggal detengah semak-semak hingga akhirnya
ditemukan capung biru.
Capung biru sedih sekali melihat capung gagah terluka
disepanjang tubuhnya, dia menangisi suaminya yang sudah sekarat.
“capung biru yang cantik, pakailah sayapku untuk terbang,
bukankah kau ingin sekali memiliki sayap, dan terbang seperti lainnya.” Kata si
capung gagah.
Capung biru masih menangis, memeluk capung
gagah dengan satu sayapnya yang indah berkilauan, “aku lebih baik tak memiliki
sayap selamanya daripada harus memakai sayapmu”
“ku mohon pakailah capung biru, kau membutuhkannya, suatu hari
anak-anak kita akan lahir bagaimana kau akan melindunginya jika kau sendiri tak
bisa melindungi dirimu sendiri, ku mohon pakailah capung biru, ku mohon” dan
berhenti di kata terakhir capung gagah akhirnya mati dipelukan istrinya.
Capung biru telah memiliki anak yang lucu,
dan semua anaknya memiliki sayap termasuk ibunya, capung biru untuk pertama
kali dan seterusnya bisa terbang, terbang dengan sayap suaminya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar