AIR MATA ABAH
Bah kenapa menangis?, tanyaku
Kembali ku lihat air mata yang rancu dengan senyum diwajahnya
Ku ulang lagi, bah kenapa jenengan menangis
Tak ada jawaban, hanya sesekali meletakkan tangan di dadanya
Ku utus mata merinci gerak- geriknya
Namun abah tertegun lalu berdehem khasnya
“putriku, sepeninggalanku kau jauh dari perkiraanku
Bukan nak... bukan sekarang badanmu yang kurus
Wajahmu yang kemudian pucat, atau karena bajumu tak semahal dulu
Sepatumu tak semewah dulu, bukan pula kau sekarang hanya jalan kakiu bahagia menyelimuti hati abahmu...”
Putriku tak lagi manja
Tak jua berkeluh
Bergurau nakal namun kini dia telah dewasa

subhanallah...
BalasHapussepertinya saya kenal
Hapus