Jumat, 22 Juni 2012

LANTUNAN TERAKHIR SANG MUADZIN



LANTUNAN TERAKHIR SANG MUADZIN
“siapa orang yang pertama kali kau pikirkan saat bangun tidur?”
“apa yang kau lihat darinya? Matanya, hidungnya?, Senyumnya?, Atau candanya?”
Apa pentingnya memikirkan orang lain sedangkan banyak sekali yang belum terfikirkan untuk diri kita sendiri?, untuk apa?, apa hebatnya? sudah berapa kali kita membuang waktu sekiranya untuk menemukan segala sesuatu dari inspirasi yang tiada puncaknya namun tetap kita jadikan rutinitas.
Rozaklah yang akan menjawabnya, Perempuan seperti apa yang ada dibenak pemuda manis berjenggot tipis yang disebut sebut sebagai utusan Tuhan sebagai Muadzin ini?, apa perempuan sholehah yang berjilbab panjang, tingal di pesantren perempuan yang aktif dalam organisasi dan selalu mengikuti jaman.
Tidak kurang dari tiga tahun rozak merantau jauh dari orang tua, hatinya merintih setiap melantunkan adzan, darahnya berdesir, bahkan terkadang tanpa sadar dia menitihkan air mata, selalu ada namanya di hati masyarakat yang sholat di masjid tersebut, suaranya yang khas, lembut dan menyegarkan tidak membuat orang jenuh mendengarnya. Dia tinggal dengan orang tua asuhnya yang di kenal dua tahun yang lalu di sebuah kampung dekat sekolahnya, karena rozak termasuk pemuda rajin, pintar dan sholeh. Hal itu membuat orang tua asuhnya senang padanya dan tidak ragu untuk menjadikannya anak asuh,yang dibiayai hidupnya dan menyekolahkannya sampai perguruan tinggi.
J
“zak lusa bapak dan ibu akan bertandang kerumah kakaknya bapak, jadi tolong jangan kemana- mana ya setelah pulang kuliah”. Pesan ayah angkatnya yang saat itu sedang duduk bersama rozak di emperan.
“iya, bapak. Insyaallah saya akan langsung kerumah setelah pulang kuliah”
Jawab rozak, dan kemudian menyruput teh buatan adik angkatnya nisa, nisa adalah anak dari pak sholeh, ayah angkat rozak.
            Kemudian datanglah bu zainab istri pak sholeh, “oh iya zak tolong jaga adikmu juga ya, dia sekarang sering pulang terlambat dan tidak jelas perginya kemana, ibu kawatir padanya”.
“baik bu, saya pastikan dik nisa aman, memangnya bapak dan ibu akan menginap di sana?”
“iya zak, ada acara keluarga, sebenarnya kami tidak ingin menginap ya bu?, tapi karena sudah lama juga tidak datang mengunungi mas abbas, jadi tidak enak kalau langsung pulang”. Jawab pak sholeh yang saat itu duduk di sebelah istrinya.
“ya sudah zak, kami istirahat dulu ya, besok bapak dan ibu harus berangkat pagi- pagi agar tidak tertinggal kereta” ucap bu zainap sambil membereskan cangkir teh.
“bu biar rozak saja yang membawa cangkirnya ke dapur, ibu dan bapak istirahat saja” cegah rozak yang langsung merebut dengan halus cangkir yang di bawa bu zainab.
“kamu memang anak yang baik zak, orang tuamu pasti senang memilki anak sepertimu”. Puji pak sholeh pada rozak, diiringi senyum bu zainab.
J
            Belum menginjak waktu subuh, pemuda soleh ini meluncur ke masjid An- Nur tidak jauh dari rumahnya, dia bergegas dengan langkah cekatan, seakan- akan mengejar sesuatu. Setelah sampai seperti biasa dia menyalakan lampu- lampu masjid, berwudhu dan mulai mengumandangkan adzan dengan merdunya. Tidak lama kemudian satu persatu para jamaah berdatangan, dan setelah imam datang, maka sholat subuhpun dumulai. Seperti biasa rozak sholat tepat dibelakang imam disebelah kanan, jika ada pak sholeh maka dia akan berada disebelah ayah angkatnya, berhubung saat itu pak sholeh tidak jamaah di masjid maka rozapun mengantkannya, di barisan putri terlihat anisa berdiri di shaf paling depan.
            Anisa adalah anak pak sholeh dan bu zainab, gadis lugu dengan paras cantik nan anggun seperti ibunya, dia lulusan aliyah yang sekarang kuliah di tempat yang sama dengan rozak, namun anisa baru menginjak semester dua sedangkan rozak sudah hampir lulus dan sedang mengerjakan skripsinya. Mereka memang tidak terlalu dekat, selain bukan saudara kandung juga karena anisa sangat  menjaga hijab aurat dan batinnya, begitu juga rozak, rozak dan anisa lebih sering diam, hanya sesekali menyapa itu juga bila ada orang tua anisa. Meskipun begitu rozak sudah menganggap anisa sebagai adiknya sendiri.
            Sepulangya rozak dan anisa dari masjid pak sholeh dan bu zainab sudah  tidak ada di rumah, mereka sudah berangkat ketika rozak dan nisa ke masjid. Nisa langsung menuju kamarnya, dan kemudian rozakpun sama, mereka masuk kekamarnya masing- masing tanpa saling bertegur sapa.
            Pukul setengah tujuh tepatnya, nisa keluar kamarnya dengan wajah yang cemas dan kebingungan. Rozak yang saat itu berada di ruang makan menghampirinya. “dik nisa sedang mencari apa?, bisa mas bantu?”.
Nisa masih juga sibuk mencari sesuatu yang tidak rozak ketahui, lalu dia kaget ada sosok tegap tinggi berapa di belakangnya.
“mas rozak?, mengagetkan nisa saja”. Sembil memegang dadannya.
“habis nisa seperti orang bingung saja, ada yang bisa mas bantu?”
“buku nisa yang mas belikan kemarin, nisa lupa naruh, padahal hari ini ada mata kuliah itu, bagaimana ini mas?”
“owh... kenapa tidak bilang, mas rozak punya, bawa saja punya mas”. Jawab rozak tenang
“benar mas boleh nisa pinjam?”jawab nisa dengan wajah berbinar
“ya boleh dik nisa, kenapa tidak. Biar mas ambil dulu di kamar”. Kemudian rozak bergegas kekamarnya.
Tidak lama nisa menunggu, rozak datang mebawa bukunya, “ini bukunya, sama persis kan sama milik dik nisa?, cepat berangkat ke kampus nanti telat”.
“wah...iya terimakasih ya mas. Nisa bawa dulu”, lalu beranjak keluar rumah.
J
            Rozak pulang kuliah lebih awal dari nisa, biasanya dia pergi dulu keperpus jika tidak ada pekerjaan di kampus atau pergi ketempat kerjanya di kantor pos dan tempat laundri pakaian dekat kampus. Sambil menunngu dhuhur dia membaca beberapa tulisan nisa yang sudah di bendel rapi yang di taruh ruang baca. Rumah milik pak sholeh ini memang tidak terlalu besar namun setiap isi rumahnya meiliki fungsi lebih dibanding rumah- rumah yang lebih besar dari rumahnya. Selain perpustakaan mini ada juga tempat penyimpanan barang- barang antik. Karena pak sholeh termasuk sejarahwan yang hobi mengoleksi barang- barang antik.
            Kembali ke annisa, gadis berkulit kuning ini pandai menulis, mulai dari puisi, cerpen, artikel, bahkan annisa telah direkrut salah seorang penerbit buku untuk menyelesaikan sebuah novel islami, banyak juga dia memperoleh penghargaan atas tulisan- tulisannya. Salah satu cerpen yang  menarik hati rozak adalah “Bulan madu di Surga”, bagi rozak ini aneh, annisa gadis polos seperti nisa bisa memikirkan hal seperti itu. Belum sempat rozak membacanya, Hpnya berdering bunyi alarm yang  dia tandai untuk meningatkannya untuk adzan.
J
            Kembali dia kumandangkan adzan dengan suara merdunya, sesekali dia menunduk dan meneruskan adzan, sambil hati terus mengucap asma allah, tiba- tiba dia menitihkan air matanya, teringat sosok wanita separuh baya dengan wajahnya yang sendu dan bertahta cinta di hatinya, Ibu, rozak teringat ibunya yang kini mungkin sama halnya dengan dia yang rindu pada putranya yang sudah tiga tahun tidak pulang, seperti apa ibunya sekarang?, apakah masih sama seperti terhakir rozak melihatnya sebelum dia merantau ke Jogja untuk bersekolah, Ibu rozak hanya seorang guru TK dan ayahnya yang usinya sudah mencapai usia lanjut tidak lebih sebagai petani yang sering berhenti kerja karena fisiknya yang sudah lemah untuk bekerja. Kemudian setelah selesai adzan rozak menunduk sebentar membaca doa kemudian berwudhu kembali, dengan terus membaca istigfar dalam hatinya.
            Ketika usai sholat dhuhur, dia tidak langsung pulang. Kembali dia teteskan air matanya, rindu pada ibu dan ayah dikampungya kali ini sungguh sudah tidak bisa di bendung lagi, sudah tidak bisa terobati jika hanya  melalui televon. Apalagi kini kabarnya ayah rozak sudah mulai sakit- sakitan, bagaimana hati rozak tidak semakin gundah, tidak jauh dari tempatnya terlihat lelaki tegap dengan rambut yang sedikit memutih kemudian menghampirinya, dia adalah pak tomo pegawai kantor pos yang bertugas mengirim surat ataupun paket- paket, pak tomo juga sering membantu rozak jika dia ingin mengirim barang kepada orang tuanya di kampung.
“ mas rozak ini kenapa to?, kok saya perhatikan dari tadi menunduk saja, apa ada masalah kalau saya boleh tau?” sapa pak tomo saat itu pada rozak
“saya rindu orang tua saya di kampung pak, sudah hampir tiga tahun sejak saya kuliah disini, saya belum pernah bertemu dengan mereka”.
“owh...kenapa kamu tidak pulang saja zak?, kalaupun keseharianmu kamu sibuk, bukankah lebaran kamu bisa pulang dan mengunjungi orang tuamu” jawab pak tomo, memberi saran pada rozak
“tidak semudah itu pak, saya disni ikut orang, hidup saya sudah biayai mereka, mereka sudah menganggap saya sebagai anaknya sendiri, saya tidak bisa seenaknya datang dan pergi begitu saja”
“kamu tidak sepenuhnya bergantung pada pak sholeh, sekolahmu saja beasiswa, kamu kan juga bekerja mas rozak, saya rasa mas rozak ini tidak sepenuhnya menggantungkan diri pada keluarga pak sholeh, tidak masalah juga kan kalau sesekali pulang, saya rasa pak sholeh dan keluarganya juga tidak akan keberatan.”
“iya pak, seharusnya begitu tapi saya sendiri yang merasa tidak enak, lagian pulang kekampung itu biayanya juga tdak sedikit, mungkin setelah saya lulus ujian skripsi ini saya akan pulang.”
“iya terserah Mas rozak saja, yang terbaik untuk mas rozak Cuma mas sendiri yang tau. Kalau begitu bapak kembali pulang duluan ya, assalamualaikum.” Ucap pak tomo mengakhiri dialognya dengan rozak yang saat itu masih duduk di masjid.
J
Sedangkan annisa yang saat itu baru pulang kuliah mencari keberadaan kakak angkatnya yang tidak ada dirumah kemudian dia melihat jam yang melingkar ditangannya,dia yakin kakak angkatnya masih berada dimasjid, hari itu annisa memang terlihat agak aneh tidak seperti biasanya, jangankan menunggu rozak, bertegur sapa saja jarang meskipun serumah, entah apa yang terjadi dengan gadis yang baru berusia 18 tahun ini. Dia semakin gelisah ketika jam menunjukkan pukul setengah dua, dia mondar- mandir sendiri memutar- mutar ujung jilbabnya sesekali duduk untuk menenangkan dirinya. Tidak lama dari itu terdengar suara orang membuka pintu, annisa tergagap dan langsung berdiri, sosok yang sejak tadi ditunggunya telah datang, namun rozak hanya mengcap salam tanpa memperhatikannya sedikitpun.
Annisa masuk kekamarnya dan menutup pintu agak keras, dia merasa kecewa telah diabaikan begitu saja oleh rozak, perlakuan rozak padanya bukan tanpa alasan karena rozak bukan tipe orang yang cuek apalagi tidak ramah pada orang. Dia bingung dengan perlakuannya pada rozak, yang pasti bukan Cuma karena rozak meminjaminya buku tadi pagi, pasti ada sebab lainnya kenapa annisa begitu gelisah hatinya, dan begitu setia menunggi rozak.
Ketika waktu ashar tiba rozak kembali melaksanakan kewajibannya memanggil umat islam untuk melaksanakan sholat ashar, sore itu terlihat berbeda dari siang tadi, rozak dengan senyumnya yang khas dengan gingsulnya menyapa annisa, “tadi kenapa kok pintunya dibanting suaranya sampai mengganggu istirahatnya mas”, ucapan rozak membuatnya kelu, dia malu bercampur menyesal sudah melakukan hal bodoh tadi siang, seharusnya dia bisa menahan emosinya.
“maaf mas, tadi annisa tidak sengaja” balas annisa dengan sekidit menundukkan kepalanya
“tidak apa- apa, kalau begitu ayo berangkat kemasjid” ajak rozak pada annisa, lalu mereka berangkat kemasjid bersama- sama.
J
Malamnya ketika rozak berada dikamarnya, dikagetkan dengan suara annisa dari luar kamarnya,
“Mas, mas rozak...buka pintunya penting...” teriak annisa
“ada apa nis?” ucap rozak tanpa bangun dar tempat duduknya
“ibunya  mas rozak televon” ucap nisa, membuat rozak lalu bergegas membuka pintu dan merebut televon yang di pegang oleh nisa, keudian terjadiah dialog antara Rozak dengan ibunya, Annisa tersenyum melihat kakak angkatnya dengan senyum- senyum sendiri, sesekali raut muka rozak berubah memerah, dan kadang mengucapkan kata- kata yang tidak annisa mengerti seperti “saya terserah ibu saja”, Annisa bingung dengan setiap kata yang diucapkan Rozak, sepertinya ibu Rozak sedang menawarkan sesuatu, dan Rozak tidak menjawab dengan tegas, hanya sesekali mengucapkan terserah. Namun bagi annisa itu bukan urusannya. Setelah kejadian itu rozak jadi sering melamun sendir aaknya dia tidak ingin membagi yang dia rasakan pada orang lain termasuk pada orang tua angkatnya.
            Beberapa bulan setelah itu, dia berpamitan pada kedua orang tua angkatnya yang dijogja serta pada anissa, setelah skripsi dan wisuda dia pulang kampung, dengan berat hati kedua orang tua rozak bu zainab dan pak sholeh melepas rozak, entah kenapa hari itu annisa terlihat sangat sedih, wajahnya dipenuhi tanda tanya besar oleh orang tuanya, kaena semenjak kepergian rozak annisa menjadi murung dan kurang semangat, terlintas dalam hati pak sholeh dan bu zainab untuk datang kerumah rozak dan ingin menjodohkan nissa padanya.
            Sementara dikampung Rozak dengan kehidupannya yang sederhana, dia tetap jadi muadzin yang suaranya merdu dan mengesankan, kini meski dia sudah sarjana dengan predikat terbaik, dia tak keberatan sementara dia menunggu pengumuman diterima tidaknya dia di perusahaan tempat dia melamar kerja, sambil mengajar mengaji di pesantren anak yatim dekat rumahnya. Orang tuanya bangga padanya, rozak memang baik, dia pemuda yang berbeda dari pemuda pada umumnya yang senang berfoya-foya dan bersenang-senang menghabiskan waktu untuk kegiatan tidak penting. Tapi rozak lebih memilih membantu oarng tuaya.
BERSAMBUNG……
           

Tidak ada komentar:

Posting Komentar