LANTUNAN TERAKHIR SANG MUADZIN
“siapa orang yang pertama kali kau pikirkan saat bangun tidur?”
“apa yang kau lihat darinya? Matanya, hidungnya?, Senyumnya?, Atau
candanya?”
Apa pentingnya
memikirkan orang lain sedangkan banyak sekali yang belum terfikirkan untuk diri
kita sendiri?, untuk apa?, apa hebatnya? sudah berapa kali kita membuang waktu
sekiranya untuk menemukan segala sesuatu dari inspirasi yang tiada puncaknya
namun tetap kita jadikan rutinitas.
Rozaklah yang
akan menjawabnya, Perempuan seperti apa yang ada dibenak pemuda manis
berjenggot tipis yang disebut sebut sebagai utusan Tuhan sebagai Muadzin ini?,
apa perempuan sholehah yang berjilbab panjang, tingal di pesantren perempuan
yang aktif dalam organisasi dan selalu mengikuti jaman.
Tidak kurang
dari tiga tahun rozak merantau jauh dari orang tua, hatinya merintih setiap
melantunkan adzan, darahnya berdesir, bahkan terkadang tanpa sadar dia
menitihkan air mata, selalu ada namanya di hati masyarakat yang sholat di
masjid tersebut, suaranya yang khas, lembut dan menyegarkan tidak membuat orang
jenuh mendengarnya. Dia tinggal dengan orang tua asuhnya yang di kenal dua
tahun yang lalu di sebuah kampung dekat sekolahnya, karena rozak termasuk
pemuda rajin, pintar dan sholeh. Hal itu membuat orang tua asuhnya senang
padanya dan tidak ragu untuk menjadikannya anak asuh,yang dibiayai hidupnya dan
menyekolahkannya sampai perguruan tinggi.
J
“zak
lusa bapak dan ibu akan bertandang kerumah kakaknya bapak, jadi tolong jangan
kemana- mana ya setelah pulang kuliah”. Pesan ayah angkatnya yang saat itu
sedang duduk bersama rozak di emperan.
“iya,
bapak. Insyaallah saya akan langsung kerumah setelah pulang kuliah”
Jawab rozak,
dan kemudian menyruput teh buatan adik angkatnya nisa, nisa adalah anak dari pak
sholeh, ayah angkat rozak.
Kemudian datanglah
bu zainab istri pak sholeh, “oh iya zak tolong jaga adikmu juga ya, dia
sekarang sering pulang terlambat dan tidak jelas perginya kemana, ibu kawatir
padanya”.
“baik bu, saya pastikan dik nisa aman, memangnya bapak dan ibu akan
menginap di sana?”
“iya zak, ada acara keluarga, sebenarnya kami tidak ingin menginap
ya bu?, tapi karena sudah lama juga tidak datang mengunungi mas abbas, jadi
tidak enak kalau langsung pulang”. Jawab pak sholeh yang saat itu duduk di
sebelah istrinya.
“ya sudah zak, kami istirahat dulu ya, besok bapak dan ibu harus
berangkat pagi- pagi agar tidak tertinggal kereta” ucap bu zainap sambil
membereskan cangkir teh.
“bu biar rozak saja yang membawa cangkirnya ke dapur, ibu dan bapak
istirahat saja” cegah rozak yang langsung merebut dengan halus cangkir yang di
bawa bu zainab.
“kamu memang anak yang baik zak, orang tuamu pasti senang memilki
anak sepertimu”. Puji pak sholeh pada rozak, diiringi senyum bu zainab.
J
Belum menginjak
waktu subuh, pemuda soleh ini meluncur ke masjid An- Nur tidak jauh dari
rumahnya, dia bergegas dengan langkah cekatan, seakan- akan mengejar sesuatu.
Setelah sampai seperti biasa dia menyalakan lampu- lampu masjid, berwudhu dan
mulai mengumandangkan adzan dengan merdunya. Tidak lama kemudian satu persatu
para jamaah berdatangan, dan setelah imam datang, maka sholat subuhpun dumulai.
Seperti biasa rozak sholat tepat dibelakang imam disebelah kanan, jika ada pak
sholeh maka dia akan berada disebelah ayah angkatnya, berhubung saat itu pak sholeh
tidak jamaah di masjid maka rozapun mengantkannya, di barisan putri terlihat
anisa berdiri di shaf paling depan.
Anisa adalah anak
pak sholeh dan bu zainab, gadis lugu dengan paras cantik nan anggun seperti
ibunya, dia lulusan aliyah yang sekarang kuliah di tempat yang sama dengan
rozak, namun anisa baru menginjak semester dua sedangkan rozak sudah hampir
lulus dan sedang mengerjakan skripsinya. Mereka memang tidak terlalu dekat,
selain bukan saudara kandung juga karena anisa sangat menjaga hijab aurat dan batinnya, begitu juga
rozak, rozak dan anisa lebih sering diam, hanya sesekali menyapa itu juga bila
ada orang tua anisa. Meskipun begitu rozak sudah menganggap anisa sebagai
adiknya sendiri.
Sepulangya rozak
dan anisa dari masjid pak sholeh dan bu zainab sudah tidak ada di rumah, mereka sudah berangkat
ketika rozak dan nisa ke masjid. Nisa langsung menuju kamarnya, dan kemudian
rozakpun sama, mereka masuk kekamarnya masing- masing tanpa saling bertegur
sapa.
Pukul setengah
tujuh tepatnya, nisa keluar kamarnya dengan wajah yang cemas dan kebingungan.
Rozak yang saat itu berada di ruang makan menghampirinya. “dik nisa sedang
mencari apa?, bisa mas bantu?”.
Nisa masih juga sibuk mencari sesuatu yang tidak rozak ketahui,
lalu dia kaget ada sosok tegap tinggi berapa di belakangnya.
“mas rozak?, mengagetkan nisa saja”. Sembil memegang dadannya.
“habis nisa seperti orang bingung saja, ada yang bisa mas bantu?”
“buku nisa yang mas belikan kemarin, nisa lupa naruh, padahal hari
ini ada mata kuliah itu, bagaimana ini mas?”
“owh... kenapa tidak bilang, mas rozak punya, bawa saja punya mas”.
Jawab rozak tenang
“benar mas boleh nisa pinjam?”jawab nisa dengan wajah berbinar
“ya boleh dik nisa, kenapa tidak. Biar mas ambil dulu di kamar”.
Kemudian rozak bergegas kekamarnya.
Tidak lama nisa menunggu, rozak datang mebawa bukunya, “ini
bukunya, sama persis kan sama milik dik nisa?, cepat berangkat ke kampus nanti
telat”.
“wah...iya terimakasih ya mas. Nisa bawa dulu”, lalu beranjak
keluar rumah.
J
Rozak pulang
kuliah lebih awal dari nisa, biasanya dia pergi dulu keperpus jika tidak ada
pekerjaan di kampus atau pergi ketempat kerjanya di kantor pos dan tempat
laundri pakaian dekat kampus. Sambil menunngu dhuhur dia membaca beberapa
tulisan nisa yang sudah di bendel rapi yang di taruh ruang baca. Rumah milik
pak sholeh ini memang tidak terlalu besar namun setiap isi rumahnya meiliki
fungsi lebih dibanding rumah- rumah yang lebih besar dari rumahnya. Selain
perpustakaan mini ada juga tempat penyimpanan barang- barang antik. Karena pak
sholeh termasuk sejarahwan yang hobi mengoleksi barang- barang antik.
Kembali ke annisa,
gadis berkulit kuning ini pandai menulis, mulai dari puisi, cerpen, artikel,
bahkan annisa telah direkrut salah seorang penerbit buku untuk menyelesaikan
sebuah novel islami, banyak juga dia memperoleh penghargaan atas tulisan-
tulisannya. Salah satu cerpen yang
menarik hati rozak adalah “Bulan madu di Surga”, bagi rozak ini aneh,
annisa gadis polos seperti nisa bisa memikirkan hal seperti itu. Belum sempat
rozak membacanya, Hpnya berdering bunyi alarm yang dia tandai untuk meningatkannya untuk adzan.
J
Kembali dia
kumandangkan adzan dengan suara merdunya, sesekali dia menunduk dan meneruskan
adzan, sambil hati terus mengucap asma allah, tiba- tiba dia menitihkan air
matanya, teringat sosok wanita separuh baya dengan wajahnya yang sendu dan
bertahta cinta di hatinya, Ibu, rozak teringat ibunya yang kini mungkin sama
halnya dengan dia yang rindu pada putranya yang sudah tiga tahun tidak pulang,
seperti apa ibunya sekarang?, apakah masih sama seperti terhakir rozak
melihatnya sebelum dia merantau ke Jogja untuk bersekolah, Ibu rozak hanya
seorang guru TK dan ayahnya yang usinya sudah mencapai usia lanjut tidak lebih
sebagai petani yang sering berhenti kerja karena fisiknya yang sudah lemah
untuk bekerja. Kemudian setelah selesai adzan rozak menunduk sebentar membaca
doa kemudian berwudhu kembali, dengan terus membaca istigfar dalam hatinya.
Ketika usai sholat
dhuhur, dia tidak langsung pulang. Kembali dia teteskan air matanya, rindu pada
ibu dan ayah dikampungya kali ini sungguh sudah tidak bisa di bendung lagi,
sudah tidak bisa terobati jika hanya
melalui televon. Apalagi kini kabarnya ayah rozak sudah mulai sakit-
sakitan, bagaimana hati rozak tidak semakin gundah, tidak jauh dari tempatnya
terlihat lelaki tegap dengan rambut yang sedikit memutih kemudian
menghampirinya, dia adalah pak tomo pegawai kantor pos yang bertugas mengirim
surat ataupun paket- paket, pak tomo juga sering membantu rozak jika dia ingin
mengirim barang kepada orang tuanya di kampung.
“ mas rozak ini kenapa to?, kok saya perhatikan dari tadi menunduk
saja, apa ada masalah kalau saya boleh tau?” sapa pak tomo saat itu pada rozak
“saya rindu orang tua saya di kampung pak, sudah hampir tiga tahun
sejak saya kuliah disini, saya belum pernah bertemu dengan mereka”.
“owh...kenapa kamu tidak pulang saja zak?, kalaupun keseharianmu
kamu sibuk, bukankah lebaran kamu bisa pulang dan mengunjungi orang tuamu”
jawab pak tomo, memberi saran pada rozak
“tidak semudah itu pak, saya disni ikut orang, hidup saya sudah
biayai mereka, mereka sudah menganggap saya sebagai anaknya sendiri, saya tidak
bisa seenaknya datang dan pergi begitu saja”
“kamu tidak sepenuhnya bergantung pada pak sholeh, sekolahmu saja
beasiswa, kamu kan juga bekerja mas rozak, saya rasa mas rozak ini tidak sepenuhnya
menggantungkan diri pada keluarga pak sholeh, tidak masalah juga kan kalau
sesekali pulang, saya rasa pak sholeh dan keluarganya juga tidak akan
keberatan.”
“iya pak, seharusnya begitu tapi saya sendiri yang merasa tidak
enak, lagian pulang kekampung itu biayanya juga tdak sedikit, mungkin setelah
saya lulus ujian skripsi ini saya akan pulang.”
“iya terserah Mas rozak saja, yang terbaik untuk mas rozak Cuma mas
sendiri yang tau. Kalau begitu bapak kembali pulang duluan ya,
assalamualaikum.” Ucap pak tomo mengakhiri dialognya dengan rozak yang saat itu
masih duduk di masjid.
J
Sedangkan
annisa yang saat itu baru pulang kuliah mencari keberadaan kakak angkatnya yang
tidak ada dirumah kemudian dia melihat jam yang melingkar ditangannya,dia yakin
kakak angkatnya masih berada dimasjid, hari itu annisa memang terlihat agak
aneh tidak seperti biasanya, jangankan menunggu rozak, bertegur sapa saja
jarang meskipun serumah, entah apa yang terjadi dengan gadis yang baru berusia
18 tahun ini. Dia semakin gelisah ketika jam menunjukkan pukul setengah dua,
dia mondar- mandir sendiri memutar- mutar ujung jilbabnya sesekali duduk untuk
menenangkan dirinya. Tidak lama dari itu terdengar suara orang membuka pintu,
annisa tergagap dan langsung berdiri, sosok yang sejak tadi ditunggunya telah
datang, namun rozak hanya mengcap salam tanpa memperhatikannya sedikitpun.
Annisa masuk
kekamarnya dan menutup pintu agak keras, dia merasa kecewa telah diabaikan
begitu saja oleh rozak, perlakuan rozak padanya bukan tanpa alasan karena rozak
bukan tipe orang yang cuek apalagi tidak ramah pada orang. Dia bingung dengan
perlakuannya pada rozak, yang pasti bukan Cuma karena rozak meminjaminya buku
tadi pagi, pasti ada sebab lainnya kenapa annisa begitu gelisah hatinya, dan
begitu setia menunggi rozak.
Ketika waktu
ashar tiba rozak kembali melaksanakan kewajibannya memanggil umat islam untuk
melaksanakan sholat ashar, sore itu terlihat berbeda dari siang tadi, rozak
dengan senyumnya yang khas dengan gingsulnya menyapa annisa, “tadi kenapa kok
pintunya dibanting suaranya sampai mengganggu istirahatnya mas”, ucapan rozak
membuatnya kelu, dia malu bercampur menyesal sudah melakukan hal bodoh tadi
siang, seharusnya dia bisa menahan emosinya.
“maaf mas, tadi annisa tidak sengaja” balas annisa dengan sekidit
menundukkan kepalanya
“tidak apa- apa, kalau begitu ayo berangkat kemasjid” ajak rozak
pada annisa, lalu mereka berangkat kemasjid bersama- sama.
J
Malamnya ketika rozak berada dikamarnya, dikagetkan dengan suara
annisa dari luar kamarnya,
“Mas, mas rozak...buka pintunya penting...” teriak annisa
“ada apa nis?” ucap rozak tanpa bangun dar tempat duduknya
“ibunya mas rozak televon”
ucap nisa, membuat rozak lalu bergegas membuka pintu dan merebut televon yang
di pegang oleh nisa, keudian terjadiah dialog antara Rozak dengan ibunya,
Annisa tersenyum melihat kakak angkatnya dengan senyum- senyum sendiri,
sesekali raut muka rozak berubah memerah, dan kadang mengucapkan kata- kata
yang tidak annisa mengerti seperti “saya terserah ibu saja”, Annisa bingung
dengan setiap kata yang diucapkan Rozak, sepertinya ibu Rozak sedang menawarkan
sesuatu, dan Rozak tidak menjawab dengan tegas, hanya sesekali mengucapkan
terserah. Namun bagi annisa itu bukan urusannya. Setelah kejadian itu rozak
jadi sering melamun sendir aaknya dia tidak ingin membagi yang dia rasakan pada
orang lain termasuk pada orang tua angkatnya.
Beberapa bulan
setelah itu, dia berpamitan pada kedua orang tua angkatnya yang dijogja serta
pada anissa, setelah skripsi dan wisuda dia pulang kampung, dengan berat hati
kedua orang tua rozak bu zainab dan pak sholeh melepas rozak, entah kenapa hari
itu annisa terlihat sangat sedih, wajahnya dipenuhi tanda tanya besar oleh
orang tuanya, kaena semenjak kepergian rozak annisa menjadi murung dan kurang
semangat, terlintas dalam hati pak sholeh dan bu zainab untuk datang kerumah
rozak dan ingin menjodohkan nissa padanya.
Sementara
dikampung Rozak dengan kehidupannya yang sederhana, dia tetap jadi muadzin yang
suaranya merdu dan mengesankan, kini meski dia sudah sarjana dengan predikat
terbaik, dia tak keberatan sementara dia menunggu pengumuman diterima tidaknya
dia di perusahaan tempat dia melamar kerja, sambil mengajar mengaji di
pesantren anak yatim dekat rumahnya. Orang tuanya bangga padanya, rozak memang
baik, dia pemuda yang berbeda dari pemuda pada umumnya yang senang berfoya-foya
dan bersenang-senang menghabiskan waktu untuk kegiatan tidak penting. Tapi
rozak lebih memilih membantu oarng tuaya.
BERSAMBUNG……

Tidak ada komentar:
Posting Komentar