Jumat, 22 Juni 2012

SEJUTA CINTA UNTUK WANITA MUSLIMAH


SEJUTA CINTA UNTUK WANITA SOLEHAH
“Sejak aku mengenalnya, aku mulai meragukan kebaikan hatinya, bukan parasnya yang begitu tampan ataupun hartanya yang berlimpah, melainkan betapa baiknya dia hingga ku ragukan kebaikan itu, awalnya ada kesan sempurna dia dimataku namun kesempurnaan itu memang milik Tuhan yang menciptakannya, semakin jauh ku mengenalnya semakin tidak ada alasan aku bisa menerimanya.”
            Itulah jawaban terbaik yang pernah ku dengar dari bibir seorang gadis yang dengan halusnya menolak cinta sahabatku, aku heran kurang apa sahabatku itu, dia tampan bahkan karena begitu tampannya wajahnya sampai terlihat cantik, dia juga sangat kaya raya orang tuanya punya perusahaan besar di daerah tempat tingalnya tepatnya di Samarinda, Kalimantan Timur. Kemudian aku menengok ke arahnya dia tetap tenang dengan wajah lembutnya, semakin lama dia semakin cantik dipandang tidak heran sahabatku yang biasa dikejar- kejar perempuan kini ganti dia yang dibuat klepek- klepek oleh gadis berjilbab ini. Tidak lama dari itu dia mengembaikan lukisan yang tadi siang dititipkan oleh yafis padaku untuk diberikan pada gadis pujaannya itu.
            Aku kaget, kenapa dia harus mengembalikan lukisan yang dibuat yafis dengan susah payah untuknya, dan menitipkan salam maaf untuk yafis, setelah itu dia pamit pulang kerumahnya, dan aku dengan perasaan yang sedikit berat menenteng lukisan yafis takut mebuatnya kecewa dengan jawaban yang aku bawa dari aini. Dari jauh aku melihat yafis yang sepertinya sudah tidak sabar menungguku didepan gang kontrakanku, kemudian semakin dekat aku dengan dirinya, dia sedikit heran dengan barang yang kubawa, setelah sampai aku mengotak- atik kata- kataku sebelum memberi tau yafis agar tidak membuatnya kecewa, sejenak dia terdiam lalu pertanyaan yang sudah ku duga dari awal meluncur dari bibirnya.
“apa yang kau bawa den?, apa jawaban aini, apa dia menerima cintaku?” tanya yafis padaku
Aku diam sejenak memilih kata sederhana agar tidak membuatku menyesal sudah mengatakannya pada yafis, “semoga kamu tidak kecewa, dia mengembalikan lukisanmu yang kau buat untuknya, dia menginginkan kamu tetap jadi temannya, itu katanya”
“apa benar dia berkata begitu?, lalu apa alasan dia menolakku den, apa aku pernah bersalah padanya?” tanya yafis padaku, yang membutku semakin bingung harus menjawab apa agar dia tidak terluka.
“aku tidak tau fis, mungkin dia lebih nyaman berteman denganmu, atau jika kalian nanti berpacaran dia takut akan mengganggu kegiatan-kegiatan sosial yang sudah lama kita jalankan ini” jawabku meski agak ragu. Yafis hanya diam, aku yakin hatinya terluka, dia kecewa apalagi lukisan yang dia buat dengan susah payah  aini kembalikan dengan alasan yang tidak jelas, meskipun Yafis terlihat tegar aku kenal betul dengan sahabatku ini, dia tidak nyaman dengan keadaannya sekarang, aku mencoba menghiburnya namun sepertinya dia lebih nyaman sendiri.
            Beberapa hari ini aku ke kampus sendiri, yafis sudah lima hari tidak kuliah dan ke tempat- tempat nongkrong kami, dan juga tidak lagi ke sekolah darurat yang kami buat dengan aini beberapa tahun yang lalu, bukan hanya para anak- anak gelandangan saja yang menanyakan yafis, tapi juga gadis- gadis kampus yang suka mengejar-ngejar yafis selalu menanyakan keberadaan yafis padaku. Mengetahui hal ini aini hanya diam, aku tau dia merasa bersalah, namun tetap tidak dia tunjukkan simpatinya pada yafis. Hari- hari yang bagiku sangat tidak menyenangkan, aku yang tidak tau apa- apa menjadi imbas dari keadaan yang sangat tidak mengenakkan ini. Sudah beberapa hari tidak ada kabar lagi dari yafis, biasanya meskipun cuma dengan sms dia memberi kabar padaku, namun beberapa hari terakhir ini dia tidak sms ataupun mengabariku.
            Hal itu membuatku khawatir padanya, namun karena jadwal kuliah yang padat dan kegiatan mengajar di sekolah darurat juga penuh karena yafis tidak mengajar dan akulah yang menggantikannya, barulah hari ke kesepuluh sejak yafis tidak ada kabar barulah aku datang ke kontrakannya, setelah sampai disana yang kutemukan hanyalah tumpukan buku dan kasurnya yang sudah agak berdebu, aku tanya beberapa orang disekitar namun tidak ada yang mengetahui keberadaan yafis, dia bahkan sudah meninggalkan kontrakannya seminggu yang lalu tanpa memberi tahu pemilik kontrakan yang dia tempati selama ini, namun anehnya pakaianya masih lengkap dilemari, buku- bukunya juga masih ada tanpa kurang satupun. Aku kira awalnya dia pulang ke kalimantan namun anehnya sampai satu bulan dia tak lagi kembali, dan nomer hp nya juga tidak bisa dihubungi. Mengetahui hal ini aini tidak menafikkan perasaannya bahwa dia juga khawatir dengan Yafis, namun dia tetap dalam koridornya yang santai dan tenang dalam menanggapi segala sesuatu, sampai pada akhirnya aku menemuinya dengan sengaja, aku rasa dia tau apa maksudku, kemudian dia menyatakan kesedihannya atas menghilangnya yafis,  dia juga menyatakan keinginannya untuk meminta maaf pada yafis secara langsung, karena belum sempat dia bertatap muka dengan yafis atas kejadian satu bulan yang lalu yafis sudah menghilang terlebih dulu.
            Kamipun mencari yafis ketempat- tempat yang sering dia kunjungi, kami juga bertanya pada orang tua yafis melalui televon namun yafis juga tidak berada dirumahnya, orang tuanya juga dibuat khawatir oleh yafis, kepergian yafis seakan tidak ada bekas, membuat semua orang khawatir padanya. Hari- hari berikutnya aku dan aini menjalani kehidupan seperti biasanya, kuliah, mengajar disekolah darurat. Sampai kami lulus, sebelum diwisuda aini sudah diterima disebuah perusahaan swasta yang cukup terkenal, sedangkan aku akan bekerja disebuah perusahaan milik negara, setelah diwisuda dan bekerja ditempat masing-masing,aku dan aini semakin dekat, aini begitu canggih, aku tidak mungkin menolak hasratku untuk menikahinya, namun teringat kembali pada yafis sahabatku yang begitu mencintai aini hingga kuurungkan kembali keinginanku bersamanya, mengetahui perasaanku yang sebenarnya aini yang awalnya ku kira akan menolakku seperti halnya yafis ternyata dia menyambut dengan senang hati ajakanku untuk menikahinya, dan akhirnya kami menikah, beberapa bulan setelah kami menikah datang seorang lelaki gagah dengan pakaian yang rapi dan kijang inova mewah yang dibawanya, benar dia adalah yafis sahabat kami waktu kuliah dulu, dia telah kembali, betapa senangya aku dan aini dengan kedatangan yafis, namun sayangnya hal itu tidak membuat yafis senang, dia mengaku kecewa denganku yang sudah menikahi aini, dia marah besar dan menyuruhku menceraikan aini, awalnya aku menanggapinya enteng namun semakin lama dia nerocos dan memakiku, dan semakin aku mengalah dia semakin kesetanan dan hampir membunuhku, aini mencoba melerai namun dia tetap tidak terima.
            Aku memaklumi keadaan ini akan terjadi jika yafis kembali dengan kenyataan dia masih mencintai aini yang kini sudah jadi istriku, namun dia juga harus sadar aini tidak mencintainya sama sekali, dan lebih memilihku menjadi suaminya, hal itu membuatnya geram padaku, dia mengaku selama ini menghilang karena ingin mengimbangi aini yang menurut dia begitu sempurnya, dengan kecantikannya, alimnya, kecerdasan dan ketangguhannya sebagai perempuan yang diidamkan banyak pemuda seperti yafis dan juga aku. Yafis tidak mau mendengar penjelasan dariku dan aini sedikitpun, sampai akhirnya dia memukuliku dan sampai menusuku dengan pisau lipat yang sengaja dia bawa untuk menyakitiku, melihat hal ini aini sangat terpukul, dia semakin membenci yafis yang sudah menyakitiku.
BERSAMBUNG

Tidak ada komentar:

Posting Komentar