SEJUTA CINTA UNTUK WANITA SOLEHAH
“Sejak
aku mengenalnya, aku mulai meragukan kebaikan hatinya, bukan parasnya yang
begitu tampan ataupun hartanya yang berlimpah, melainkan betapa baiknya dia
hingga ku ragukan kebaikan itu, awalnya ada kesan sempurna dia dimataku namun
kesempurnaan itu memang milik Tuhan yang menciptakannya, semakin jauh ku
mengenalnya semakin tidak ada alasan aku bisa menerimanya.”
Itulah jawaban terbaik yang pernah
ku dengar dari bibir seorang gadis yang dengan halusnya menolak cinta
sahabatku, aku heran kurang apa sahabatku itu, dia tampan bahkan karena begitu tampannya
wajahnya sampai terlihat cantik, dia juga sangat kaya raya orang tuanya punya
perusahaan besar di daerah tempat tingalnya tepatnya di Samarinda, Kalimantan
Timur. Kemudian aku menengok ke arahnya dia tetap tenang dengan wajah
lembutnya, semakin lama dia semakin cantik dipandang tidak heran sahabatku yang
biasa dikejar- kejar perempuan kini ganti dia yang dibuat klepek- klepek oleh
gadis berjilbab ini. Tidak lama dari itu dia mengembaikan lukisan yang tadi
siang dititipkan oleh yafis padaku untuk diberikan pada gadis pujaannya itu.
Aku kaget, kenapa dia harus mengembalikan
lukisan yang dibuat yafis dengan susah payah untuknya, dan menitipkan salam
maaf untuk yafis, setelah itu dia pamit pulang kerumahnya, dan aku dengan
perasaan yang sedikit berat menenteng lukisan yafis takut mebuatnya kecewa
dengan jawaban yang aku bawa dari aini. Dari jauh aku melihat yafis yang
sepertinya sudah tidak sabar menungguku didepan gang kontrakanku, kemudian
semakin dekat aku dengan dirinya, dia sedikit heran dengan barang yang kubawa,
setelah sampai aku mengotak- atik kata- kataku sebelum memberi tau yafis agar
tidak membuatnya kecewa, sejenak dia terdiam lalu pertanyaan yang sudah ku duga
dari awal meluncur dari bibirnya.
“apa yang kau
bawa den?, apa jawaban aini, apa dia menerima cintaku?” tanya yafis padaku
Aku diam
sejenak memilih kata sederhana agar tidak membuatku menyesal sudah
mengatakannya pada yafis, “semoga kamu tidak kecewa, dia mengembalikan
lukisanmu yang kau buat untuknya, dia menginginkan kamu tetap jadi temannya,
itu katanya”
“apa benar dia
berkata begitu?, lalu apa alasan dia menolakku den, apa aku pernah bersalah
padanya?” tanya yafis padaku, yang membutku semakin bingung harus menjawab apa
agar dia tidak terluka.
“aku
tidak tau fis, mungkin dia lebih nyaman berteman denganmu, atau jika kalian
nanti berpacaran dia takut akan mengganggu kegiatan-kegiatan sosial yang sudah
lama kita jalankan ini” jawabku meski agak ragu. Yafis hanya diam, aku yakin
hatinya terluka, dia kecewa apalagi lukisan yang dia buat dengan susah
payah aini kembalikan dengan alasan yang
tidak jelas, meskipun Yafis terlihat tegar aku kenal betul dengan sahabatku
ini, dia tidak nyaman dengan keadaannya sekarang, aku mencoba menghiburnya
namun sepertinya dia lebih nyaman sendiri.
Beberapa hari ini aku ke kampus
sendiri, yafis sudah lima hari tidak kuliah dan ke tempat- tempat nongkrong
kami, dan juga tidak lagi ke sekolah darurat yang kami buat dengan aini
beberapa tahun yang lalu, bukan hanya para anak- anak gelandangan saja yang
menanyakan yafis, tapi juga gadis- gadis kampus yang suka mengejar-ngejar yafis
selalu menanyakan keberadaan yafis padaku. Mengetahui hal ini aini hanya diam,
aku tau dia merasa bersalah, namun tetap tidak dia tunjukkan simpatinya pada
yafis. Hari- hari yang bagiku sangat tidak menyenangkan, aku yang tidak tau
apa- apa menjadi imbas dari keadaan yang sangat tidak mengenakkan ini. Sudah
beberapa hari tidak ada kabar lagi dari yafis, biasanya meskipun cuma dengan
sms dia memberi kabar padaku, namun beberapa hari terakhir ini dia tidak sms
ataupun mengabariku.
Hal itu membuatku khawatir padanya,
namun karena jadwal kuliah yang padat dan kegiatan mengajar di sekolah darurat
juga penuh karena yafis tidak mengajar dan akulah yang menggantikannya, barulah
hari ke kesepuluh sejak yafis tidak ada kabar barulah aku datang ke
kontrakannya, setelah sampai disana yang kutemukan hanyalah tumpukan buku dan
kasurnya yang sudah agak berdebu, aku tanya beberapa orang disekitar namun
tidak ada yang mengetahui keberadaan yafis, dia bahkan sudah meninggalkan
kontrakannya seminggu yang lalu tanpa memberi tahu pemilik kontrakan yang dia
tempati selama ini, namun anehnya pakaianya masih lengkap dilemari, buku-
bukunya juga masih ada tanpa kurang satupun. Aku kira awalnya dia pulang ke
kalimantan namun anehnya sampai satu bulan dia tak lagi kembali, dan nomer hp
nya juga tidak bisa dihubungi. Mengetahui hal ini aini tidak menafikkan
perasaannya bahwa dia juga khawatir dengan Yafis, namun dia tetap dalam
koridornya yang santai dan tenang dalam menanggapi segala sesuatu, sampai pada
akhirnya aku menemuinya dengan sengaja, aku rasa dia tau apa maksudku, kemudian
dia menyatakan kesedihannya atas menghilangnya yafis, dia juga menyatakan keinginannya untuk meminta
maaf pada yafis secara langsung, karena belum sempat dia bertatap muka dengan
yafis atas kejadian satu bulan yang lalu yafis sudah menghilang terlebih dulu.
Kamipun mencari yafis ketempat-
tempat yang sering dia kunjungi, kami juga bertanya pada orang tua yafis
melalui televon namun yafis juga tidak berada dirumahnya, orang tuanya juga
dibuat khawatir oleh yafis, kepergian yafis seakan tidak ada bekas, membuat
semua orang khawatir padanya. Hari- hari berikutnya aku dan aini menjalani
kehidupan seperti biasanya, kuliah, mengajar disekolah darurat. Sampai kami
lulus, sebelum diwisuda aini sudah diterima disebuah perusahaan swasta yang
cukup terkenal, sedangkan aku akan bekerja disebuah perusahaan milik negara,
setelah diwisuda dan bekerja ditempat masing-masing,aku dan aini semakin dekat,
aini begitu canggih, aku tidak mungkin menolak hasratku untuk menikahinya,
namun teringat kembali pada yafis sahabatku yang begitu mencintai aini hingga
kuurungkan kembali keinginanku bersamanya, mengetahui perasaanku yang
sebenarnya aini yang awalnya ku kira akan menolakku seperti halnya yafis
ternyata dia menyambut dengan senang hati ajakanku untuk menikahinya, dan
akhirnya kami menikah, beberapa bulan setelah kami menikah datang seorang
lelaki gagah dengan pakaian yang rapi dan kijang inova mewah yang dibawanya,
benar dia adalah yafis sahabat kami waktu kuliah dulu, dia telah kembali,
betapa senangya aku dan aini dengan kedatangan yafis, namun sayangnya hal itu
tidak membuat yafis senang, dia mengaku kecewa denganku yang sudah menikahi
aini, dia marah besar dan menyuruhku menceraikan aini, awalnya aku
menanggapinya enteng namun semakin lama dia nerocos dan memakiku, dan semakin
aku mengalah dia semakin kesetanan dan hampir membunuhku, aini mencoba melerai
namun dia tetap tidak terima.
Aku memaklumi keadaan ini akan
terjadi jika yafis kembali dengan kenyataan dia masih mencintai aini yang kini
sudah jadi istriku, namun dia juga harus sadar aini tidak mencintainya sama
sekali, dan lebih memilihku menjadi suaminya, hal itu membuatnya geram padaku,
dia mengaku selama ini menghilang karena ingin mengimbangi aini yang menurut
dia begitu sempurnya, dengan kecantikannya, alimnya, kecerdasan dan
ketangguhannya sebagai perempuan yang diidamkan banyak pemuda seperti yafis dan
juga aku. Yafis tidak mau mendengar penjelasan dariku dan aini sedikitpun,
sampai akhirnya dia memukuliku dan sampai menusuku dengan pisau lipat yang
sengaja dia bawa untuk menyakitiku, melihat hal ini aini sangat terpukul, dia
semakin membenci yafis yang sudah menyakitiku.
BERSAMBUNG

Tidak ada komentar:
Posting Komentar