“katanya
jangan pernah membawa penghapus jika sedang menulis karena saat kau menghapus
maka akan tertunda idemu untuk melanjutkan ceritamu, meski secepat apapun
kemampuanmu dalam berfikir, ingat itu bang!”
Ucapan itu
terus menjadi vitamin jika aku enggan menulis, dan mulai bosan dengan
seperangkat alat tulis menulis ini. dia gadis luar biasa, meski terkesan manja
dan sering sekali bertanya aku yakin dia cerdas dan kemampuannya dalam mengkap hal
lebih dari aku. Aku kini tanpanya, karena ku dengar sahabatku ini sudah ke luar
negeri untuk menyelesaikan studynya. Entah sampai kapan dia ingin belajar, kini
saja usiaku sudah dua puluh lima tahun, aku yakin dia sudah dewasa dua puluh
empat tahun karena hanya beda satu tahun denganku.
“kreek...!”
terdengar suara pintu tua, aku yakin dia nita, tanpa ku palingkan wajah aku
sudah mengenal suara khas dari sepatunya. Kini dia membawa menu berbeda dari
biasanya yang selalu dia bawa untukku.
“mas sudah
selesai nulisnya?, nita membawakan sayur lodeh kesukaan mas kan?” ucapnya
sedikit berbeda dari biasanya.
“darimana
kau tau itu kesukaanku dik?, apa kau tanya putri?” tanyaku padanya, yang duduk
tak jauh dariku meski ada jarak.
Nita adalah
tunanganku yang dipilihkan ibu, dia gadis shalihah dari pesantren yang hafal
alquran, serta kini menjadi mualimah di sebuah pesantren modern di Bandung
tidak jauh dari kantorku.
“iya mas,
soalnya mas selalu makan masakan yang kupaksakan. Tadi saya yang tanya putri
mas, ternyata adik mas itu lebih ahli memasak daripada saya”
“oh...jadi
yang memasak ini putri to? Bukan kamu?.”
“tidak...bukan
begitu, saya yang memasak kok tetapi tetap dengan bantuan putri, hehe”
Meski sudah
bertunangan namun nita tetap menunjukkan kealimannya dengan konsisten menjaga
jarak padaku, meski aku bakal jadi suminya kelak, ibu memang tidak pernah salah
pilih.
Setelah
memakan bekal dari nita, aku kembali bekerja. Kini nita pulang aku kembali
sendiri dengan sebatang laptop dengan tumpukan kertas dimejaku, tidak jarang
bahkan selalu nita yang membantu merapikannya.
Page 2
Akhirnya
aku kembali pulang, dengan seperangat pekerjaan yang belum ku selesaikan
dikantor pribadiku, meski sudah bekerja di perusahaan eksport import rasanya
aku tetap tak ingin mengakhiri hobbyku menulis di ruang sederhana yang hanya
empat kali lima meter ini, tempat ini menyimpan berjuta kenanganku dengan
sahabatku, karena dengan ruangan kecil ini aku mulai menikmati hobbyku menulis
hingga tulisanku di muat diberbagai media masa bahkan banyak pula yang
berbentuk frasa-frasa, atau novel-novel. Kemudian aku pulang.
Dirumah, Suara
ibu menyambutku dengan lembut, “sudah pulang gus?, bagaimana pekerjaanmu
dikantor hari ini?”
“alhamdulillah
bu ada peningkatan, bulan depan bagus yang bertugas pergi ke seol mengirim
barang dan bertemu langsung dengan pemasok disana.”
“loh kok
mendadak begitu?” ucap ibu sambil melepas dasiku, kemudian membuatkanku teh
serta menyiapkan air hangat untukku.
“bukan
mendadak bu.. sebenarnya sudah dari kemarin tapi bagus enggan menanggapinya, ga
ingin meninggalkan ibu dan putri sendiri.”
“halah...alasan,
paling kamu ga mau ninggalin nita?, iya kan..”
“hehehe,ibu
bisa saja”
Setelah
dialog itu aku mandi, makan, kemudian membaringan badanku ditempat tidur.”
Page 3
Tiba
waktunya aku pergi ke Seol, mungkin kepergianku ini lebih lama dari biasanya.
Karena disana aku juga akan melakukan penelitian ulang dengan bahan yang akan
di ekspor ke Negaraku, rasanya memang berat meninggalkan ibu, putri dan nita.
Setelah
sampai di Seoul, aku menuju ke Hotel berbintang yang sudah disediakan kantor
untukku, sambil menunggu malam karena ada janji dengan klien, maka aku
sempatkan jalan-jalan, sambil menikmati pemandangan dengan taksi.
Tidak lepas
dari pandanganku, sosok berjilbab yang berbeda dengan gadis-gadis lain
disekitarnya yang tak jauh dari taksi yang ku tumpangi, mengingatkanku pada
nita. Saat berbalik badan, ternyata dia via. Dia sahabatku yang sudah lama aku
tak pernah bertemu dengannya. Tanpa berfikir panjang aku menyetop taksi yang ku
tumpangi, tak peduli ditengah jalan aku mnyebrang hingga mobil-mobil
membunyikan klaksonnya, akupun tak mempedulikan diriku lagi sudah lama aku tak
bertemu dengannya, kini dia ada didekatku tak mungkin aku mengabaikannya.
Hingga akhirnya sebuah mobil menyerempetku dari belakang hingga aku terjatuh.
Akibat ulah
gilaku, via dan orang-orang disekitar mendatangiku untuk menolongku. Kini ganti
via yang terbirit-birit menuju ke arahku. Diapun kaget melihatku, meski awalnya
tak langsung mengenaliku karena sudah lama sekali aku dan via tak bertemu.
“bang
bagus?, ini bang bagus bukan?” tanyanya mengulangi untuk meyakinkannya.
Ditengah
hingar bingar kota Seoul via membawaku ke Rumah sakit dan kita bercerita
banyak. Aku melihatnya sama seperti dulu, dia tetap ceria, banyak sekali
bertanya, dan tak canggung meski sudah lama tak bertemu denganku. Sedangkan aku
hanya memuaskan dengan cukup memandangnya saja, dia tetap ayu dan tak pernah
melepas jilbabnya, ingat waktu SMA akulah yang mengingatkannya memakai jilbab,
tanpa bertanya dan protes seperti biasanya dia padaku, dia langsung
menurutinya. Setelah puas bercengkrama dan melepas rindu, via mengantarkanku ke
hotel karena dia merasa bersalah padaku. Padahal aku tidak.
“via, kapan
kita bisa bertemu lagi?, abangmu ini masih ingin berbagi cerita denganmu?”
“dari tadi
via terus yang cerita bang, nanti gantian abang yang cerita sama via. besok via
ga bisa bang, lusa saja ya... biar via yang kesini. Kan abang belum tau asrama
via.”
“sip...,
kamu hati-hati ya vi”
Page 4
Lusa aku kembali
bertemu padanya, kini dia mengajakku ke tempat favoritnya di Seoul, danau yang
tenang dan indah. Via memang gadis ceria dan rame tapi dia senang dengan
ketenangan, hari itu ku habiskan waktu dengannya, mulai dari memancing, makan
bersama, main sepedah di sekitaran danau hingga malam bersama kembang api.
Aku tak
pernah melupakan masa lalu bersamanya hingga hari ini juga aku selalu ingat apa
saja yang sudah ku lakukan dengannya sejak SMA. Dan putus komunikasi sejak dia
keluar Negeri untuk belajar, dan kini Tuhan mempertemukan kembali. Bahkan tahun
depan via sudah kembali ke Indonesia untuk mengabdikan dirinya, meski belajar
di luar Negeri dia tetap ingin bekerja di Negaranya sendiri. Hebatnya via.
Seiring
berjalannya waktu, aku dan via sering menghabiskan waktuku di seoul bersamanya,
hingga sampai waktuku di Seoul berakhir, via mengantarkanku ke bandara. Dia
melambaikan tangannya dan melempar senyum padaku. Rasanya aku tak perlu
khawatir akan kehilangannya lagi karena sudah ku genggang nomer hp dan emailnya.
Kini hanya menunggu kepulangannya.
Page 5
Sesampainya
di bandung ibu, putri dan nita sudah menyambutku di Bandara. Aku senang melihat
mereka, satu bulan hanya berkomunikasi lewat televon. Maklum tidak pernah jauh
dari mereka, terutama ibu yang semenjak ayah meninggal. Maka aku yang bertugas
menggantikan ayah untuk menjaga ibu dan putri.
Setelah itu
kami melaju dengan taksi, karena diantara ibu, putri dan nita tidak ada yang
bisa menyetir mobil. Sesampainya dirumah aku banyak bercerita dengan ibu dan putri
sedangkan nita membereskan pakaianku di tas dan membuatkanku teh, dia memang
sudah tidak canggung lagi dirumah kami, karena pertunanganku sudah hampir
berakhir karena dua bulan lagi aku akan menikahinya.
Page 6
Serasa
waktu berjalan cepat sekali, satu bulan sudah berlalu kini aku, ibu putri dan
keluargaku beserta keluarga nita mulai sibuk menyiapkan pernikahanku dengan
nita. Serasa senang sekali bisa menikahi gadis shalihah seperti nita. Beberapa
waktu ditengah kesibukanku tiba-tiba hpku berbunyi, tanda sms masuk. Wajahku
langsung berubah bungah melihatnya, iya... ini sms dari via.
“bang...bagus,
aku sudah sampai di bandung dua menit lebih tiga puluh detik keluar dari
pesawat, kini aku ingin lihat abang sudah ada di bandara atau belum untuk
menjemputku, seperti janji abang kemarin”
Aku
tersentak membaca sms tersebut, teringat beberapa waktu lalu aku berjanji
padanya bahwa aku adalah orang pertama yang menyambutnya ketika dia kembali ke
Indonesia. Tanpa berfikir panjang aku bergegas menuju Bandara sambil membalas
smsnya dengan menyetir mobilku.
“via...maka
empat menit kurang satu detik kau akan melihat abangmu di Bandara untuk
menyambutmu.”
Belum
sempat terbalas sms tersebut, bagus mengalami kecelakaan, karena dia menyetir
tanpa melihat kearah depan. Kini kabar bagus kecelakaan telah sampai pada
telinga ibunya, putri dan dan nita, betapa sedih mereka menerima musibah ini,
terutama nita. Dia tak sanggup jika harus kehilangan calon suaminya, bahkan
semenjak kecelakaan itu bagus mengalami gagar otak yang menghilangkan
ingatannya.
Mengingat
sebentar lagi pernikahannya dengan bagus akan segera berlangsung, nita tak bisa
menerima kenyataan itu. Dia selalu membantu bagus mengingat kejadian-kejadian
bersamanya, namun bagus tetap tak ingat, bahkan dia tak mengenali ibu serta
adiknya, termasuk nita tunangannya. Kini nita mulai putus asa, satu bulan sudah
dia menemani bagus, merawatnya berusaha mengembalikan ingatannya tapi bagus tak
juga sembuh, bahkan sampai lewat tanggal pernikahannya bagus tak juga
mengingat. Bagus lebih sering diam dan menyendiri, hal ini membuat nita
terpukul dan putus asa.
Ibu dan
adik bagus tak hentinya berdoa untuk kesembuhannya, sampai tiga bulan bagus tak
juga ingat dengan dirinya. Kini orang tua nita mulai ikut bergerak melihat
putrinya yang dilanda kesedihan. Menunda pernikahan sampai bagus sembuh itu
tidak mungkin karena dokterpun sudah mengatakan bahwa kesempatan untuk sembuh
adalah sangat kecil, sampai enam bulan menunggu baguspun tak juga ingat.
Kemudian nita dinikahkan oleh orang tuanya dengan mualim juga dari pesantren
yang sama dengan tempat nita mengajar. Sebelum menikah, nita sempatkan datang
pada bagus dan memihin maaf pada ibu serta putri adiknya, tumpahan air mata
terjadi ketika nita mulai pamit dan meninggalkan bagus disaat seperti ini.
“bu... demi
tuhan ini bukan keinginan nita, jika ibu pernah mengatakan ridha orang tua itu
ridha illahi maka nita tak sanggup menolak permintaan abah dan umi nita untuk
menikah dengan orang lain dan meninggalkan bagus bu...” ucap nita pada ibu bagus
dengan tumpahan air mata.
Tanpa
berkata apa-apa ibu bagus hanya bisa membalas hal itu dengan air mata yang
sama, kemudian nita memeluk putri adik bagus yang sudah dia anggap adikknya
sendiri. Terakhir dia datang pada bagus yang sedang menyendiri di taman.
“mas,
maafkan nita. Nita meninggalkan mas dalam kondisi seperti ini, sesungguhnya
nita hanya mencintai mas bagus. Maaf mas.” Kemudian sebelum air matanya lebih
banyak, nita memutuskan pergi dari bagus. Sedangkan bagus seperti tiada respon
sama sekali, dia tetap diam seperti biasa.
Page 7
Kabar bagus
kecelakaan dan gagar otak tak juga sampai pada via, karena tempat tinggal bagus
pindah setelah dia bekerja dikantornya, dan viapun tak bisa menghubungi hpnya,
namun ketika via sedang akan pergi kekantornya di Bandung, tak sengaja matanya
menangkap sosok lelaki tegap bersama dengan remaja putri yang sedang menunggu
taksi, tidak salah dia itu bagus dan putri adiknya, dengan tergopoh-gopoh via
menuju ke arah bagus beserta adiknya, dia ingin marah pada bagus karena sudah
membuatnya menunggu di Bandara sampai malam.
“abang
bagus...?, lama sekali tak bertemu, kemana saja bang...? via kemarin nungguin
abang di Bandara sampai malam bang.” Ucap via sambil menatap bagus yang saat
itu digandeng oleh putri dengan wajah linglung. Lalu tanpa berkata apapun bagus
pergi begitu saja mengajak putri adiknya.
“loh
bang...?abang ini kenapa?” tanya via yang saat itu mulai kebingungan dengan
tingkah bagus. Kemudian putri adik bagus yang saat itu bersama bagus menyadari
hal itu, dan dia mendatangi via yang tertegun ditempatnya.
“kakak ini
kak via ya?, temannya kak bagus kan. Putri boleh minta nomor hpnya kak via,
nanti putri ceritain semua apa yang sudah menimpa kak bagus?.”
“kamu putri
adiknya ya?,baiklah ini nomor kakak.” Sambil menyerahkan kartu nama. Sedangkan
bagus sudah menunggu via didalam taksi dengan terus memanggil adiknya.
Page 8
Malamnya,
suara sms mengagetkan via yang saat itu sedang shalat. Setelah shalat isya’.
Disitulah via mengetahui segala yang terjadi pada bagus. Dan dari fikirannya
terbenak bahwa segala yang menimpa bagus adalah kesalahannya. Bahkan via pun
tau bagus ditinggalkan tunangannya semenjak dia gagar otak. Dan kini diapun tak
mengingat dirinya dan juga keluarganya, hal ini membuat via terpukul dan
menangis seketika itu. Mukena yang dipakainya kini basah, sekarangpun dia tau
mengapa bagus tak jadi menjemputnya di bandara karena saat menuju bandara dia
kecelakaan.
Mereda
hatinya, via berjanji akan mengembalikan ingatan bagus. Keesokan harinya via
memutuskan cuti untuk berkunjung kerumah bagus yang baru dengan alamat yang
diberi oleh putri. Disana dia bertemu putri dan ibunda bagus. Sedang mendengar
cerita tentang bagus, via mencoba menahan air matanya. Kemudian dia mendatangi
sahabatnya sambil terus memandangi, sedang bagus hanya nampak tak perduli
dengan kedatangan via. bagus hanya ingat dengan tulisannya saja.
BERSAMBUNG
Tidak ada komentar:
Posting Komentar