Rabu, 05 Desember 2012

KE KOTA ASMARA (ASSAKINAH, MAWADAH, WARAHMAH) BERSAMAMU Page 1



“katanya jangan pernah membawa penghapus jika sedang menulis karena saat kau menghapus maka akan tertunda idemu untuk melanjutkan ceritamu, meski secepat apapun kemampuanmu dalam berfikir, ingat itu bang!”
Ucapan itu terus menjadi vitamin jika aku enggan menulis, dan mulai bosan dengan seperangkat alat tulis menulis ini. dia gadis luar biasa, meski terkesan manja dan sering sekali bertanya aku yakin dia cerdas dan kemampuannya dalam mengkap hal lebih dari aku. Aku kini tanpanya, karena ku dengar sahabatku ini sudah ke luar negeri untuk menyelesaikan studynya. Entah sampai kapan dia ingin belajar, kini saja usiaku sudah dua puluh lima tahun, aku yakin dia sudah dewasa dua puluh empat tahun karena hanya beda satu tahun denganku.
“kreek...!” terdengar suara pintu tua, aku yakin dia nita, tanpa ku palingkan wajah aku sudah mengenal suara khas dari sepatunya. Kini dia membawa menu berbeda dari biasanya yang selalu dia bawa untukku.
“mas sudah selesai nulisnya?, nita membawakan sayur lodeh kesukaan mas kan?” ucapnya sedikit berbeda dari biasanya.
“darimana kau tau itu kesukaanku dik?, apa kau tanya putri?” tanyaku padanya, yang duduk tak jauh dariku meski ada jarak.
Nita adalah tunanganku yang dipilihkan ibu, dia gadis shalihah dari pesantren yang hafal alquran, serta kini menjadi mualimah di sebuah pesantren modern di Bandung tidak jauh dari kantorku.
“iya mas, soalnya mas selalu makan masakan yang kupaksakan. Tadi saya yang tanya putri mas, ternyata adik mas itu lebih ahli memasak daripada saya”
“oh...jadi yang memasak ini putri to? Bukan kamu?.”
“tidak...bukan begitu, saya yang memasak kok tetapi tetap dengan bantuan putri, hehe”
Meski sudah bertunangan namun nita tetap menunjukkan kealimannya dengan konsisten menjaga jarak padaku, meski aku bakal jadi suminya kelak, ibu memang tidak pernah salah pilih.
Setelah memakan bekal dari nita, aku kembali bekerja. Kini nita pulang aku kembali sendiri dengan sebatang laptop dengan tumpukan kertas dimejaku, tidak jarang bahkan selalu nita yang membantu merapikannya.
Page 2
Akhirnya aku kembali pulang, dengan seperangat pekerjaan yang belum ku selesaikan dikantor pribadiku, meski sudah bekerja di perusahaan eksport import rasanya aku tetap tak ingin mengakhiri hobbyku menulis di ruang sederhana yang hanya empat kali lima meter ini, tempat ini menyimpan berjuta kenanganku dengan sahabatku, karena dengan ruangan kecil ini aku mulai menikmati hobbyku menulis hingga tulisanku di muat diberbagai media masa bahkan banyak pula yang berbentuk frasa-frasa, atau novel-novel. Kemudian aku pulang.
Dirumah, Suara ibu menyambutku dengan lembut, “sudah pulang gus?, bagaimana pekerjaanmu dikantor hari ini?”
“alhamdulillah bu ada peningkatan, bulan depan bagus yang bertugas pergi ke seol mengirim barang dan bertemu langsung dengan pemasok disana.”
“loh kok mendadak begitu?” ucap ibu sambil melepas dasiku, kemudian membuatkanku teh serta menyiapkan air hangat untukku.
“bukan mendadak bu.. sebenarnya sudah dari kemarin tapi bagus enggan menanggapinya, ga ingin meninggalkan ibu dan putri sendiri.”
“halah...alasan, paling kamu ga mau ninggalin nita?, iya kan..”
“hehehe,ibu bisa saja”
Setelah dialog itu aku mandi, makan, kemudian membaringan badanku ditempat tidur.”
Page 3
Tiba waktunya aku pergi ke Seol, mungkin kepergianku ini lebih lama dari biasanya. Karena disana aku juga akan melakukan penelitian ulang dengan bahan yang akan di ekspor ke Negaraku, rasanya memang berat meninggalkan ibu, putri dan nita.
Setelah sampai di Seoul, aku menuju ke Hotel berbintang yang sudah disediakan kantor untukku, sambil menunggu malam karena ada janji dengan klien, maka aku sempatkan jalan-jalan, sambil menikmati pemandangan dengan taksi.
Tidak lepas dari pandanganku, sosok berjilbab yang berbeda dengan gadis-gadis lain disekitarnya yang tak jauh dari taksi yang ku tumpangi, mengingatkanku pada nita. Saat berbalik badan, ternyata dia via. Dia sahabatku yang sudah lama aku tak pernah bertemu dengannya. Tanpa berfikir panjang aku menyetop taksi yang ku tumpangi, tak peduli ditengah jalan aku mnyebrang hingga mobil-mobil membunyikan klaksonnya, akupun tak mempedulikan diriku lagi sudah lama aku tak bertemu dengannya, kini dia ada didekatku tak mungkin aku mengabaikannya. Hingga akhirnya sebuah mobil menyerempetku dari belakang hingga aku terjatuh.
Akibat ulah gilaku, via dan orang-orang disekitar mendatangiku untuk menolongku. Kini ganti via yang terbirit-birit menuju ke arahku. Diapun kaget melihatku, meski awalnya tak langsung mengenaliku karena sudah lama sekali aku dan via tak bertemu.
“bang bagus?, ini bang bagus bukan?” tanyanya mengulangi untuk meyakinkannya.
Ditengah hingar bingar kota Seoul via membawaku ke Rumah sakit dan kita bercerita banyak. Aku melihatnya sama seperti dulu, dia tetap ceria, banyak sekali bertanya, dan tak canggung meski sudah lama tak bertemu denganku. Sedangkan aku hanya memuaskan dengan cukup memandangnya saja, dia tetap ayu dan tak pernah melepas jilbabnya, ingat waktu SMA akulah yang mengingatkannya memakai jilbab, tanpa bertanya dan protes seperti biasanya dia padaku, dia langsung menurutinya. Setelah puas bercengkrama dan melepas rindu, via mengantarkanku ke hotel karena dia merasa bersalah padaku. Padahal aku tidak.
“via, kapan kita bisa bertemu lagi?, abangmu ini masih ingin berbagi cerita denganmu?”
“dari tadi via terus yang cerita bang, nanti gantian abang yang cerita sama via. besok via ga bisa bang, lusa saja ya... biar via yang kesini. Kan abang belum tau asrama via.”
“sip..., kamu hati-hati ya vi”
Page 4
Lusa aku kembali bertemu padanya, kini dia mengajakku ke tempat favoritnya di Seoul, danau yang tenang dan indah. Via memang gadis ceria dan rame tapi dia senang dengan ketenangan, hari itu ku habiskan waktu dengannya, mulai dari memancing, makan bersama, main sepedah di sekitaran danau hingga malam bersama kembang api.
Aku tak pernah melupakan masa lalu bersamanya hingga hari ini juga aku selalu ingat apa saja yang sudah ku lakukan dengannya sejak SMA. Dan putus komunikasi sejak dia keluar Negeri untuk belajar, dan kini Tuhan mempertemukan kembali. Bahkan tahun depan via sudah kembali ke Indonesia untuk mengabdikan dirinya, meski belajar di luar Negeri dia tetap ingin bekerja di Negaranya sendiri. Hebatnya via.
Seiring berjalannya waktu, aku dan via sering menghabiskan waktuku di seoul bersamanya, hingga sampai waktuku di Seoul berakhir, via mengantarkanku ke bandara. Dia melambaikan tangannya dan melempar senyum padaku. Rasanya aku tak perlu khawatir akan kehilangannya lagi karena sudah ku genggang nomer hp dan emailnya. Kini hanya menunggu kepulangannya.
Page 5
Sesampainya di bandung ibu, putri dan nita sudah menyambutku di Bandara. Aku senang melihat mereka, satu bulan hanya berkomunikasi lewat televon. Maklum tidak pernah jauh dari mereka, terutama ibu yang semenjak ayah meninggal. Maka aku yang bertugas menggantikan ayah untuk menjaga ibu dan putri.
Setelah itu kami melaju dengan taksi, karena diantara ibu, putri dan nita tidak ada yang bisa menyetir mobil. Sesampainya dirumah aku banyak bercerita dengan ibu dan putri sedangkan nita membereskan pakaianku di tas dan membuatkanku teh, dia memang sudah tidak canggung lagi dirumah kami, karena pertunanganku sudah hampir berakhir karena dua bulan lagi aku akan menikahinya.
Page 6
Serasa waktu berjalan cepat sekali, satu bulan sudah berlalu kini aku, ibu putri dan keluargaku beserta keluarga nita mulai sibuk menyiapkan pernikahanku dengan nita. Serasa senang sekali bisa menikahi gadis shalihah seperti nita. Beberapa waktu ditengah kesibukanku tiba-tiba hpku berbunyi, tanda sms masuk. Wajahku langsung berubah bungah melihatnya, iya... ini sms dari via.
“bang...bagus, aku sudah sampai di bandung dua menit lebih tiga puluh detik keluar dari pesawat, kini aku ingin lihat abang sudah ada di bandara atau belum untuk menjemputku, seperti janji abang kemarin”
Aku tersentak membaca sms tersebut, teringat beberapa waktu lalu aku berjanji padanya bahwa aku adalah orang pertama yang menyambutnya ketika dia kembali ke Indonesia. Tanpa berfikir panjang aku bergegas menuju Bandara sambil membalas smsnya dengan menyetir mobilku.
“via...maka empat menit kurang satu detik kau akan melihat abangmu di Bandara untuk menyambutmu.”
Belum sempat terbalas sms tersebut, bagus mengalami kecelakaan, karena dia menyetir tanpa melihat kearah depan. Kini kabar bagus kecelakaan telah sampai pada telinga ibunya, putri dan dan nita, betapa sedih mereka menerima musibah ini, terutama nita. Dia tak sanggup jika harus kehilangan calon suaminya, bahkan semenjak kecelakaan itu bagus mengalami gagar otak yang menghilangkan ingatannya.
Mengingat sebentar lagi pernikahannya dengan bagus akan segera berlangsung, nita tak bisa menerima kenyataan itu. Dia selalu membantu bagus mengingat kejadian-kejadian bersamanya, namun bagus tetap tak ingat, bahkan dia tak mengenali ibu serta adiknya, termasuk nita tunangannya. Kini nita mulai putus asa, satu bulan sudah dia menemani bagus, merawatnya berusaha mengembalikan ingatannya tapi bagus tak juga sembuh, bahkan sampai lewat tanggal pernikahannya bagus tak juga mengingat. Bagus lebih sering diam dan menyendiri, hal ini membuat nita terpukul dan putus asa.
Ibu dan adik bagus tak hentinya berdoa untuk kesembuhannya, sampai tiga bulan bagus tak juga ingat dengan dirinya. Kini orang tua nita mulai ikut bergerak melihat putrinya yang dilanda kesedihan. Menunda pernikahan sampai bagus sembuh itu tidak mungkin karena dokterpun sudah mengatakan bahwa kesempatan untuk sembuh adalah sangat kecil, sampai enam bulan menunggu baguspun tak juga ingat. Kemudian nita dinikahkan oleh orang tuanya dengan mualim juga dari pesantren yang sama dengan tempat nita mengajar. Sebelum menikah, nita sempatkan datang pada bagus dan memihin maaf pada ibu serta putri adiknya, tumpahan air mata terjadi ketika nita mulai pamit dan meninggalkan bagus disaat seperti ini.
“bu... demi tuhan ini bukan keinginan nita, jika ibu pernah mengatakan ridha orang tua itu ridha illahi maka nita tak sanggup menolak permintaan abah dan umi nita untuk menikah dengan orang lain dan meninggalkan bagus bu...” ucap nita pada ibu bagus dengan tumpahan air mata.
Tanpa berkata apa-apa ibu bagus hanya bisa membalas hal itu dengan air mata yang sama, kemudian nita memeluk putri adik bagus yang sudah dia anggap adikknya sendiri. Terakhir dia datang pada bagus yang sedang menyendiri di taman.
“mas, maafkan nita. Nita meninggalkan mas dalam kondisi seperti ini, sesungguhnya nita hanya mencintai mas bagus. Maaf mas.” Kemudian sebelum air matanya lebih banyak, nita memutuskan pergi dari bagus. Sedangkan bagus seperti tiada respon sama sekali, dia tetap diam seperti biasa.
Page 7
Kabar bagus kecelakaan dan gagar otak tak juga sampai pada via, karena tempat tinggal bagus pindah setelah dia bekerja dikantornya, dan viapun tak bisa menghubungi hpnya, namun ketika via sedang akan pergi kekantornya di Bandung, tak sengaja matanya menangkap sosok lelaki tegap bersama dengan remaja putri yang sedang menunggu taksi, tidak salah dia itu bagus dan putri adiknya, dengan tergopoh-gopoh via menuju ke arah bagus beserta adiknya, dia ingin marah pada bagus karena sudah membuatnya menunggu di Bandara sampai malam.
“abang bagus...?, lama sekali tak bertemu, kemana saja bang...? via kemarin nungguin abang di Bandara sampai malam bang.” Ucap via sambil menatap bagus yang saat itu digandeng oleh putri dengan wajah linglung. Lalu tanpa berkata apapun bagus pergi begitu saja mengajak putri adiknya.
“loh bang...?abang ini kenapa?” tanya via yang saat itu mulai kebingungan dengan tingkah bagus. Kemudian putri adik bagus yang saat itu bersama bagus menyadari hal itu, dan dia mendatangi via yang tertegun ditempatnya.
“kakak ini kak via ya?, temannya kak bagus kan. Putri boleh minta nomor hpnya kak via, nanti putri ceritain semua apa yang sudah menimpa kak bagus?.”
“kamu putri adiknya ya?,baiklah ini nomor kakak.” Sambil menyerahkan kartu nama. Sedangkan bagus sudah menunggu via didalam taksi dengan terus memanggil adiknya.
Page 8
Malamnya, suara sms mengagetkan via yang saat itu sedang shalat. Setelah shalat isya’. Disitulah via mengetahui segala yang terjadi pada bagus. Dan dari fikirannya terbenak bahwa segala yang menimpa bagus adalah kesalahannya. Bahkan via pun tau bagus ditinggalkan tunangannya semenjak dia gagar otak. Dan kini diapun tak mengingat dirinya dan juga keluarganya, hal ini membuat via terpukul dan menangis seketika itu. Mukena yang dipakainya kini basah, sekarangpun dia tau mengapa bagus tak jadi menjemputnya di bandara karena saat menuju bandara dia kecelakaan.
Mereda hatinya, via berjanji akan mengembalikan ingatan bagus. Keesokan harinya via memutuskan cuti untuk berkunjung kerumah bagus yang baru dengan alamat yang diberi oleh putri. Disana dia bertemu putri dan ibunda bagus. Sedang mendengar cerita tentang bagus, via mencoba menahan air matanya. Kemudian dia mendatangi sahabatnya sambil terus memandangi, sedang bagus hanya nampak tak perduli dengan kedatangan via. bagus hanya ingat dengan tulisannya saja.
BERSAMBUNG


Tidak ada komentar:

Posting Komentar