Rabu, 05 Desember 2012

PAGAR AYU



Hari ini adalah hari pertama aku menginjakkan kakiku di Kampus, masih sangat polos dan terlihat dungu. Ah...aku cuek saja meski tak ada satupun yang ku kenal di tempat ini. kemudian tak lama dari itu, ketika aku duduk di bawah pohon, seseorang mendatangiku, aku pikir dia sama sepertiku, masih mahasiswa baru dan belum ada yang dia kenal di kampus ini. dan ternyata dugaanku tidak meleset, dia sama sepertiku, masih baru. Namanya rona, dia lulusan dari salah satu SMA terbaik di Daerahnya, bisa ku lihat hal itu dari caranya berdandan dan style nya yang modern dan terlihat cerdas. Setelah berkenalan, akhirnya kami menjadi teman dekat, rona adalah anak tunggal dari orang tuanya yang kini sudah tidak bersama lagi. Iya...dia korban broken home. Ayahnya pengusaha kaya raya yang menikah lagi dengan sekertarisnya dan hal itu tanpa sepengetahuan ibu rona, seiring berjalannya waktu bau busuk bangkai itu akhirnya tercium juga oleh ibu rona, sehingga membuatnya geram dan menggugat ayah rona. Akhirnya orang tua rona pun bercerai dan kini rona tinggal hanya dengan ibunya.
“begitulah dew, aku sendiri bingung kenapa ayahku bisa melakukan hal itu. Padahal jika kau tau, ibuku adalah perempuan yang sangat baik dan sama sekali tidak pernah menolak permintaan ayahku, apalagi mengecewakan hati ayahku, dulu keluargaku sangat bahagia, namun karenadatangnya wanita itu kini keluargaku jadi berantakan”
Cerita rona padaku membuatku ikut merasakan kepedihannya, kemudian aku hanya selalu bisa menghiburnya dan menjadi temannya. Kami mengambil jurusan yang sama, dan kebetulan juga dari tiga kelas jurusannya aku juga ditakdirkan sekelas dengan rona. Kami berjuang bersama untuk meraih cita-cita menjadi entrepreneur Syariah. Kami begitu bersemangat dalam belajar, bahkan kami bersaing secara sehat di kelas, hingga IPK rona dan IPK ku menjadi yang terbaik yaitu 4.00, sungguh membanggakan bukan,,??.
Atas prestasi yang kita raih, aku dan rona bahkan sering mengikuti kompetisi atau lomba-lomba masalah bisnis, aku dan rona juga sering mengikuti lomba pidato, rona ahli pada Bahasa Inggris sedangkan aku bahasa Arab. Maklum aku lulusan pesantren sedangkan rona SMA negeri yang modern. Meski bersahabat dengan rona dan banyak kemiripan antara aku dengannya namun dalam hal cinta rona agaknya lebih lihai daripada aku, mngkin alasan yang sama lagi yaitu karena dia dari SMA sedangkan aku hanya santri salaf yang masuk ke Universitas ini dengan hasil jerih payahku mengajukkan beasiswa meskipun didukung juga dengan prestasiku.
Rona sudah memiliki kekasih, namun beda jurusan. Namanya tomy, semenjak semester tiga rona dan tomy sudah memiliki hubungan spesial, hingga sekarang semester lima. Sedangkan aku memang berkomitmen untuk sendiri saja sampai benar-benar ada orang yang srius padaku, bukan untuk pacaran juga namun menikah. Lagipula keberadaanku dikampus ini memang hanya ku fokuskan untuk belajar saja, dan kemudian membantu ekonomu orang tuaku, serta meringankan beban mereka pula dalam menyekolahkan kelima adikku.
Memang aku terlihat lebih menyedihkan dibanding rona dalam hal ekonomi, namun aku yakin aku lebih bahagia karena ayah dan ibuku tidak memiliki nasib yang sama seperti orang tua rona.
Seperti biasa, aku duduk paling depan bahkan tak jarang selalu tepat depan dosen pengajar, namun kali ini berbeda karena rona tak masuk kuliah, sudah beberapa hari namun aku belum sempat menanyakan hal itu padanya karena aku masih terlalu sibuk. Kemudian di dalam jalannya kuliah, aku merasa ada yang aneh pada pria yang duduk didepanku, iya...dia adalah pak Arfan dosen pengajarku, dari awal ku perhatikan pak arfan melihatku lebih daripada yang lainnya, tanpa bersuudzon padanya, aku bersikap biasa saja. Namun beberapa hari kedepan aku temui mata itu memandangku dengan cara yang sama, lama-kelamaan aku menjadi risih, sampai pada akhirnya aku ingin berbagi dengan rona, namun sudah beberapa kali ku telvon dan mencoba mendatangi kosnya, dia tidak ada.
Aku mulai gelagapan sendiri, tidak ada teman dekat seperti rona untuk sekedar curhat, sedangkan perilaku pak arfan padaku semakin menjadi, tidak jarang beliau memanggilku kekantornya, hanya untuk hal-hal sepele yang seharusnya tak perlu meminta bantuanku. Dan sering menawariku untuk mengantarkanku pulang, namun karena aku tinggal dipesantren sehingga ada alasan untuk menolaknya.
Setelah beberapa minggu aku mulai sedikit lega, pak arfan sedikit demi sedikit menjauhiku, mungkin hal itu dikarenakan sikapku padanya yang akhir-akhir ini ketakutan sendiri padanya. Sedangkan rona semakin tidak ada kabar, dan itu membuatku khawatir padanya hingga akupun nekad mendatangi rumah ibunya, namun nihil ternyata rona tak berada dirumah ibunya, kedatanganku malah membuat ibunya cemas karena sudah hampir sebulan rona tak ada kabar, dan ibunya sendiri tidak tau, hingga ibunya pun menghubungi ayah rona untuk menanyakan keberadaan rona. Hal itu malah membuat keadaan tak baik, karena ayah rona menuduh ibunya tidak becus dalam merawat anak.
Kondisi seperti ini membuatku sedih, dan selalu ku sempatka untuk mencari rona. Namun hingga sebulan rona tak juga ditemukan. Sampai pada suatu hari ibuku di kampung menelevonku untuk menyuruhku segera pulang, aku pikir tidak ada salahnya juga aku pulang, karena sudah lama juga aku tidak pulang. Namun sesampainya dirumah, dengan sangat kagetnya mataku disambut oleh wajah pak arfan yang saat itu sedang duduk diruang tamu bersama ayah dan ibuku. Aku menjadi semakin bingung, ada apa dengan pak arfan, dan sdang apa beliau dirumahku. Pikiranku menjadi campur aduk.
Mengetahui kedatanganku, ibu segera menyuruhku duduk dan mendengarkan ayah yang seperti orang akan berpidato dan menyiapkan kata-kata yangtepat untuk disampaikan padaku. Sedangkan pak arfan mendukung setiap rangkaian kata dari ayah dan ibu dengan senyumnya.
Kata demi kata ayah keluarkan tapi belum juga kutemukan intinya, hingga akhirnya aku mendengar kalimat yang ha,pir membuatku pingsan,
“nduk...cah ayu, pak arfan ingin menyuntingmu. Semoga kamu tidak mengartikan iktikad baiknya itu pada keluarga kita y..” ucap ayah saat itu, dadaku ;angsung sesak dan aku tak mengatakan apa-apa, dengan wajah yang masih bingung dan masih tak percaya aku paksakan mulutku untuk mengatakan sesuatu, meski sakit hatiku namun aku tetap menjaga setiap kata yang keluar agar tidak menjadi salah paham.
“ngapunten pak...bu, saya masih belum mengerti apa yang bapak dan ibu dawuhkan.” Ucapku dengan menahan tangis.
Kemudian belum sampai ayah dan ibu mengulangi perkataannya yang sebetulnya sudah aku tau namun masih ku nafikkan. Pak arfan mengucapkan sepatah dua patah kata yanghal itu membuatku seperti ditusuk belati.
“maaf dewi, jika saya datang tanpa memberi tau kamu terlebih dulu. Saya pikir kamu akan menolak jika saya mengatakannya, jadi saya putuskan untuk langsung datang pada orang tuamu, lagipula saya tau persis kamu gadis baik yang sebenarnya tak mau dilamar dengan cara langsung.”
Hatiku serasa ingin mencabik-cabik wajahnya dan menendangnya keluar dari rumahku, meski aku tau caranya benar namun tujuannya salah, sudah jelas salah. Dia sudah punya istri, punya anak. Lalu apa alasannya menikah lagi kalau bukan karena nafsu. Kemudian aku tak menjawabnya hanya memberi isyarat bahwa aku tak suka dia datang meski dia dosenku sendiri. Namun sesuai pesan abah di pesantren seperti apapun itu, sorang gadis harus menjaga lisannya. Hingga tak sempat aku mengumpat dan memarahinya.
Tak lama dari itu aku masuk ke kamar dan membiarkannya kembali berbincang-bincang dengan ayah dan ibuku. Aku menagis dikamar serasa ingin marah dengan sesuatu yang menimpaku barusan. Sudah tidak ada rona yang sekedar untuk mendengar curhatannku, kini aku tertimpa musibah yang sama bahkan aku tak tau samapai kapan dan bagaimana penyelesainnya, seakan ingin cepat kembali ke pesantren dan menceritakan semuanya pada umi dan abah dan meminta saran dalam masalahku inii. Karena tadi aku hanya menjawab bahwa aku masih butuh waku untuk memikirkan menikah, dan aku pikir tidak mungkin orang tuau menerima begitu saja dan setuju saja aku menikah padahal aku adalah harapan mereka untuk membantu ekonomi kami.
Seakan tak ingin menunda waktu lagi, aku putuskan untuk kembali kepesantren dan berniat menceritakan semua pada abah dan umi selaku pengasuh yang sudah ku anggap orang tuaku sendiri, setelah sampai didepan pesantren akupun dikejutkan kembali dengan melihat mobil hitam dengan plat nomor yang sama dengan mobil yang kemarin parkir didepan rumahku. Tak salah itu adalah pak arfan, mau apa beliau datang kemari pikirku, mengetahui beliau sedang bertamu dirumah abah, ku urungkan dulu niatku untuk sowan, namun sebelum aku masuk ke kamar, abah sudah memanggilku dan hal yang kutakutkan kembali terulang, ternyata beliau datang untuk melamarku, belum puas sudah datang pada ayah dan ibuku kini datang kepesantrenku. Aku rasa pak arfan memang ingin menunjukkan keseriusannya padaku. Namun hal itu bukanlah harapanku, dan anehnya abah dan umi menyetujui hal itu, padahal kemarin waktu salah seorang ustadz melamarku, abah dengan tegas menolaknya tanpa meminta pendapatku terlebih dulu, sedangkan sekarang tanpa meminta pendapatku abah meyakinkan bahwa ini yang terbaik. Kembali lagi hatiku teriris-iris. Sekarang benar-benar sudah tidak ada yang mendengarkan curhatku, aku benar-benar bingung. Setelah kejadian itu aku hanya seperti orang bodoh dan tak pernah berhenti berdoa agar Allah memberi petunjuknya melalui istiqarah, hajad, puasa senin kamis, semua ku lakukan agar mendapat petunjuk dariNya.
Hingga suatu malam sebelum aku menyatakan jawabanku mengenai lamaran itu, aku bermimpi bertemu dengan para bidadara tampan dengan sayap putih, kemudian dibalik bidadara tersebut aku melihat pak arfan yang berjalan mengikuti bidadara tersebut, wajahnya berbeda, lebih tampan dan mempesona mungkin hal itu karena pengaruh bidadara yang berjalan didepannya. Ketika bangun dari tidur, aku segera mengucap istigfar sebanyak mungkin, mengerti maksud Allah, kemudian paginya sudah ku duga pak Arfan kembali datang, namun sekarang beda, beliau membawa segerombolan orang-orang berjubah panjang dan berjenggot dan wajahnya menyerupai orang-orang arab yang tinggi besar.
Kembali bertanya-tanya hatiku, namun meski sudah ku tau jawaban apa yang harus aku berikan, aku tetap masih bingung, ayah dan ibuku sama sekali tak menolak lamaran itu meski usia pak arfan denganku terpaut begitu jauh, aku 21 tahun sedangkan pak arfan 38 tahun. Dan abah jugamenerimanya, kemudian dengan didampingi dua santri dalem dan umi serta abah aku menunduk sejenak kemudian meneteskan air mata, entah apa yang mereka pikirkan tentangku, air mata sedih atau bahagia, yang pasti itu kesedihan mendalam buatku. Beberapa menit dari itu aku mengatakan  iya dan bersedia menjadi istri kedua pak Arfan, dan yang lebih ku bingungkan sepertinya mereka sudah tau bahwa aku akan mengatakan iya, hingga sudah disiapkan sebegitu rupanya. Seperti sudah ada skenario dan aku menjalankannya.
Beberapa hari setelah itu aku sakit, serasa masih belum bisa menerima kenyataan, namun tetap ku paksa. Hingga badanku menjadi kurus dan pucat. Semua orang sempat bingung dengan kondisiku, seangkan bulan depan aku sudah harus menikah namun sekarang masih sakit. Hingga hari yang aku takutkan itu akhirnya datang juga dimana aku menjadi pengantin dari orang yang sama sekali tak ingin aku terima sosoknya, pernikahan itu memang mereka serahkan padaku atas keinginanku, namun karena pernikahan ini bukan dari kehendakku, akupun sama sekali tak tertarik, sehingga mereka pula yang mengatur segalanya mulai dari pakaian, dekorasi dan semuanya. Aku didandani selayaknya putri arab dengan mahendi penuh ditanganku, jilbab panjang, kemudian gaun hijau yang elegan. Aku tak memikirkan apapun yang ku pikirkan adalah bagaimana nasibku setelah menikah dengan orang yang sama sekali tak ku ingini namun diingini oleh orang tua serta pengasuhku.
Acara pernikahan yang meriah itupun berlangsung begitu meriah namun diiringi dengan air mataku, aku masih belum tau siapa sebenarnya suamiku, siapa pak arfan ini, kenapa begitu hikmat acara pernikahan kami, kenapa begitu banyak orang-orang berjubah menghadiri pernikahan kami dan mendoakan kami. Meski beliau dosenku namun aku tetap tak mengenalinya.
Kemudian dikala semua tamu usai dan bergegas pulang, dan tinggal aku dengannya saja, aku kembali ketakutan, serasa ada monster yang akan memakanku. Namun anehnya pak arfan sama sekali tak memasuki kamar kami, hingga pagi berkhusnudzon saja, mungkin pak arfan sedang bersama istri tuanya. Rumah yang kini ku tingali sangat besar, disini aku tinggal bersama pak arfan beserta istri dan putrinya yang masih kecil. Ini adalah hari pertama aku berada diumahnya, namun tak kutemukan siapa-siapa kecuali pembantu-pembantu yang jumlahnya tak kurang dari sepuluh orang, yang siap melayaniku. Akupun sama sekali tak tertarik untuk menanyakan keberadaan pak arfan beserta istri dan anaknya karena ku pikr itu bukan urusanku meski kini dia suamiku.
Pembantu-pembantu itu hanya melayaniku tak mengatakan apapun, seusai menikah dengan pak arfan aku masih tetap kuliah seperti biasa, walau akau yakin respon dari teman-temanku tidak baik padaku. Dan ternyata benar mereka sedikit menjauhiku, meski begitu mereka tetap mengucapkan selamat padaku. Entah apa yang mereka fikirkan tapi aku yakin itu bukanlah sesuatu yang baik. Dan dikampuspun aku tak melihat pak arfan sama sekali sejak pagi hingga sore.
Ketika aku pulang dari kampus seperti biasa dengan sepedaku, aku melihat pak arfan didepan rumahnya, seperti sedang menunggu sesuatu dan benar yang dia tunggu adalah aku. Lalu aku mendatanginya seraya mencium tangannya, ini kedua kalinya setelah pernikahan kemarin. Kemudian beliau mengajakku kedalam dan mengenalkanku pada fatimah istri pertamanya, subhanallah wajahnya luar biasa, benar-benar seperti putri dari mesir yang wajahnya putih segar dan terlihat bercahaya, berbeda sekali denganku. Bagaimana bisa pak arfan menikahi perempuan lain yang itu tidak ada apa-apanya dibanding istri pertamanya, fatimah adalah putri dari seorang ulama di mesir, dia dinikahi pak arfan atas dasar cinta sedangkan aku???, mungkinkah lelaki mencari istri muda yang lebih jelek dari istri pertamanya. Tapi kenyataannya aku yang dipilihnya menjadi istri keduanya, dari ujung kaki sampai ujung rambut tak ada yang kumiliki lebih dari fatimah. Aku kalah dalam segala hal. Sebenarnya apa yang pak arfan dariku???
Bersambung......

Tidak ada komentar:

Posting Komentar