Hari ini adalah hari pertama aku
menginjakkan kakiku di Kampus, masih sangat polos dan terlihat dungu. Ah...aku
cuek saja meski tak ada satupun yang ku kenal di tempat ini. kemudian tak lama
dari itu, ketika aku duduk di bawah pohon, seseorang mendatangiku, aku pikir
dia sama sepertiku, masih mahasiswa baru dan belum ada yang dia kenal di kampus
ini. dan ternyata dugaanku tidak meleset, dia sama sepertiku, masih baru.
Namanya rona, dia lulusan dari salah satu SMA terbaik di Daerahnya, bisa ku lihat
hal itu dari caranya berdandan dan style nya yang modern dan terlihat cerdas.
Setelah berkenalan, akhirnya kami menjadi teman dekat, rona adalah anak tunggal
dari orang tuanya yang kini sudah tidak bersama lagi. Iya...dia korban broken
home. Ayahnya pengusaha kaya raya yang menikah lagi dengan sekertarisnya dan
hal itu tanpa sepengetahuan ibu rona, seiring berjalannya waktu bau busuk
bangkai itu akhirnya tercium juga oleh ibu rona, sehingga membuatnya geram dan
menggugat ayah rona. Akhirnya orang tua rona pun bercerai dan kini rona tinggal
hanya dengan ibunya.
“begitulah dew, aku sendiri bingung
kenapa ayahku bisa melakukan hal itu. Padahal jika kau tau, ibuku adalah
perempuan yang sangat baik dan sama sekali tidak pernah menolak permintaan
ayahku, apalagi mengecewakan hati ayahku, dulu keluargaku sangat bahagia, namun
karenadatangnya wanita itu kini keluargaku jadi berantakan”
Cerita rona padaku membuatku ikut
merasakan kepedihannya, kemudian aku hanya selalu bisa menghiburnya dan menjadi
temannya. Kami mengambil jurusan yang sama, dan kebetulan juga dari tiga kelas
jurusannya aku juga ditakdirkan sekelas dengan rona. Kami berjuang bersama
untuk meraih cita-cita menjadi entrepreneur Syariah. Kami begitu bersemangat
dalam belajar, bahkan kami bersaing secara sehat di kelas, hingga IPK rona dan
IPK ku menjadi yang terbaik yaitu 4.00, sungguh membanggakan bukan,,??.
Atas prestasi yang kita raih, aku
dan rona bahkan sering mengikuti kompetisi atau lomba-lomba masalah bisnis, aku
dan rona juga sering mengikuti lomba pidato, rona ahli pada Bahasa Inggris
sedangkan aku bahasa Arab. Maklum aku lulusan pesantren sedangkan rona SMA
negeri yang modern. Meski bersahabat dengan rona dan banyak kemiripan antara
aku dengannya namun dalam hal cinta rona agaknya lebih lihai daripada aku,
mngkin alasan yang sama lagi yaitu karena dia dari SMA sedangkan aku hanya
santri salaf yang masuk ke Universitas ini dengan hasil jerih payahku
mengajukkan beasiswa meskipun didukung juga dengan prestasiku.
Rona sudah memiliki kekasih, namun
beda jurusan. Namanya tomy, semenjak semester tiga rona dan tomy sudah memiliki
hubungan spesial, hingga sekarang semester lima. Sedangkan aku memang
berkomitmen untuk sendiri saja sampai benar-benar ada orang yang srius padaku,
bukan untuk pacaran juga namun menikah. Lagipula keberadaanku dikampus ini
memang hanya ku fokuskan untuk belajar saja, dan kemudian membantu ekonomu
orang tuaku, serta meringankan beban mereka pula dalam menyekolahkan kelima
adikku.
Memang aku terlihat lebih
menyedihkan dibanding rona dalam hal ekonomi, namun aku yakin aku lebih bahagia
karena ayah dan ibuku tidak memiliki nasib yang sama seperti orang tua rona.
Seperti biasa, aku duduk paling
depan bahkan tak jarang selalu tepat depan dosen pengajar, namun kali ini
berbeda karena rona tak masuk kuliah, sudah beberapa hari namun aku belum
sempat menanyakan hal itu padanya karena aku masih terlalu sibuk. Kemudian di
dalam jalannya kuliah, aku merasa ada yang aneh pada pria yang duduk didepanku,
iya...dia adalah pak Arfan dosen pengajarku, dari awal ku perhatikan pak arfan
melihatku lebih daripada yang lainnya, tanpa bersuudzon padanya, aku bersikap
biasa saja. Namun beberapa hari kedepan aku temui mata itu memandangku dengan
cara yang sama, lama-kelamaan aku menjadi risih, sampai pada akhirnya aku ingin
berbagi dengan rona, namun sudah beberapa kali ku telvon dan mencoba mendatangi
kosnya, dia tidak ada.
Aku mulai gelagapan sendiri, tidak
ada teman dekat seperti rona untuk sekedar curhat, sedangkan perilaku pak arfan
padaku semakin menjadi, tidak jarang beliau memanggilku kekantornya, hanya
untuk hal-hal sepele yang seharusnya tak perlu meminta bantuanku. Dan sering
menawariku untuk mengantarkanku pulang, namun karena aku tinggal dipesantren
sehingga ada alasan untuk menolaknya.
Setelah beberapa minggu aku mulai
sedikit lega, pak arfan sedikit demi sedikit menjauhiku, mungkin hal itu
dikarenakan sikapku padanya yang akhir-akhir ini ketakutan sendiri padanya.
Sedangkan rona semakin tidak ada kabar, dan itu membuatku khawatir padanya hingga
akupun nekad mendatangi rumah ibunya, namun nihil ternyata rona tak berada
dirumah ibunya, kedatanganku malah membuat ibunya cemas karena sudah hampir
sebulan rona tak ada kabar, dan ibunya sendiri tidak tau, hingga ibunya pun
menghubungi ayah rona untuk menanyakan keberadaan rona. Hal itu malah membuat
keadaan tak baik, karena ayah rona menuduh ibunya tidak becus dalam merawat
anak.
Kondisi seperti ini membuatku sedih,
dan selalu ku sempatka untuk mencari rona. Namun hingga sebulan rona tak juga
ditemukan. Sampai pada suatu hari ibuku di kampung menelevonku untuk menyuruhku
segera pulang, aku pikir tidak ada salahnya juga aku pulang, karena sudah lama
juga aku tidak pulang. Namun sesampainya dirumah, dengan sangat kagetnya mataku
disambut oleh wajah pak arfan yang saat itu sedang duduk diruang tamu bersama
ayah dan ibuku. Aku menjadi semakin bingung, ada apa dengan pak arfan, dan
sdang apa beliau dirumahku. Pikiranku menjadi campur aduk.
Mengetahui kedatanganku, ibu segera
menyuruhku duduk dan mendengarkan ayah yang seperti orang akan berpidato dan
menyiapkan kata-kata yangtepat untuk disampaikan padaku. Sedangkan pak arfan
mendukung setiap rangkaian kata dari ayah dan ibu dengan senyumnya.
Kata demi kata ayah keluarkan tapi
belum juga kutemukan intinya, hingga akhirnya aku mendengar kalimat yang ha,pir
membuatku pingsan,
“nduk...cah ayu, pak arfan ingin
menyuntingmu. Semoga kamu tidak mengartikan iktikad baiknya itu pada keluarga
kita y..” ucap ayah saat itu, dadaku ;angsung sesak dan aku tak mengatakan
apa-apa, dengan wajah yang masih bingung dan masih tak percaya aku paksakan
mulutku untuk mengatakan sesuatu, meski sakit hatiku namun aku tetap menjaga
setiap kata yang keluar agar tidak menjadi salah paham.
“ngapunten pak...bu, saya masih
belum mengerti apa yang bapak dan ibu dawuhkan.” Ucapku dengan menahan tangis.
Kemudian belum sampai ayah dan ibu
mengulangi perkataannya yang sebetulnya sudah aku tau namun masih ku nafikkan.
Pak arfan mengucapkan sepatah dua patah kata yanghal itu membuatku seperti
ditusuk belati.
“maaf dewi, jika saya datang tanpa
memberi tau kamu terlebih dulu. Saya pikir kamu akan menolak jika saya
mengatakannya, jadi saya putuskan untuk langsung datang pada orang tuamu,
lagipula saya tau persis kamu gadis baik yang sebenarnya tak mau dilamar dengan
cara langsung.”
Hatiku serasa ingin mencabik-cabik
wajahnya dan menendangnya keluar dari rumahku, meski aku tau caranya benar
namun tujuannya salah, sudah jelas salah. Dia sudah punya istri, punya anak.
Lalu apa alasannya menikah lagi kalau bukan karena nafsu. Kemudian aku tak
menjawabnya hanya memberi isyarat bahwa aku tak suka dia datang meski dia
dosenku sendiri. Namun sesuai pesan abah di pesantren seperti apapun itu,
sorang gadis harus menjaga lisannya. Hingga tak sempat aku mengumpat dan
memarahinya.
Tak lama dari itu aku masuk ke kamar
dan membiarkannya kembali berbincang-bincang dengan ayah dan ibuku. Aku menagis
dikamar serasa ingin marah dengan sesuatu yang menimpaku barusan. Sudah tidak
ada rona yang sekedar untuk mendengar curhatannku, kini aku tertimpa musibah
yang sama bahkan aku tak tau samapai kapan dan bagaimana penyelesainnya, seakan
ingin cepat kembali ke pesantren dan menceritakan semuanya pada umi dan abah
dan meminta saran dalam masalahku inii. Karena tadi aku hanya menjawab bahwa
aku masih butuh waku untuk memikirkan menikah, dan aku pikir tidak mungkin
orang tuau menerima begitu saja dan setuju saja aku menikah padahal aku adalah
harapan mereka untuk membantu ekonomi kami.
Seakan tak ingin menunda waktu lagi,
aku putuskan untuk kembali kepesantren dan berniat menceritakan semua pada abah
dan umi selaku pengasuh yang sudah ku anggap orang tuaku sendiri, setelah
sampai didepan pesantren akupun dikejutkan kembali dengan melihat mobil hitam
dengan plat nomor yang sama dengan mobil yang kemarin parkir didepan rumahku.
Tak salah itu adalah pak arfan, mau apa beliau datang kemari pikirku,
mengetahui beliau sedang bertamu dirumah abah, ku urungkan dulu niatku untuk
sowan, namun sebelum aku masuk ke kamar, abah sudah memanggilku dan hal yang
kutakutkan kembali terulang, ternyata beliau datang untuk melamarku, belum puas
sudah datang pada ayah dan ibuku kini datang kepesantrenku. Aku rasa pak arfan
memang ingin menunjukkan keseriusannya padaku. Namun hal itu bukanlah harapanku,
dan anehnya abah dan umi menyetujui hal itu, padahal kemarin waktu salah
seorang ustadz melamarku, abah dengan tegas menolaknya tanpa meminta pendapatku
terlebih dulu, sedangkan sekarang tanpa meminta pendapatku abah meyakinkan
bahwa ini yang terbaik. Kembali lagi hatiku teriris-iris. Sekarang benar-benar
sudah tidak ada yang mendengarkan curhatku, aku benar-benar bingung. Setelah
kejadian itu aku hanya seperti orang bodoh dan tak pernah berhenti berdoa agar
Allah memberi petunjuknya melalui istiqarah, hajad, puasa senin kamis, semua ku
lakukan agar mendapat petunjuk dariNya.
Hingga suatu malam sebelum aku
menyatakan jawabanku mengenai lamaran itu, aku bermimpi bertemu dengan para
bidadara tampan dengan sayap putih, kemudian dibalik bidadara tersebut aku melihat
pak arfan yang berjalan mengikuti bidadara tersebut, wajahnya berbeda, lebih
tampan dan mempesona mungkin hal itu karena pengaruh bidadara yang berjalan
didepannya. Ketika bangun dari tidur, aku segera mengucap istigfar sebanyak
mungkin, mengerti maksud Allah, kemudian paginya sudah ku duga pak Arfan
kembali datang, namun sekarang beda, beliau membawa segerombolan orang-orang
berjubah panjang dan berjenggot dan wajahnya menyerupai orang-orang arab yang
tinggi besar.
Kembali bertanya-tanya hatiku, namun
meski sudah ku tau jawaban apa yang harus aku berikan, aku tetap masih bingung,
ayah dan ibuku sama sekali tak menolak lamaran itu meski usia pak arfan
denganku terpaut begitu jauh, aku 21 tahun sedangkan pak arfan 38 tahun. Dan
abah jugamenerimanya, kemudian dengan didampingi dua santri dalem dan umi serta
abah aku menunduk sejenak kemudian meneteskan air mata, entah apa yang mereka
pikirkan tentangku, air mata sedih atau bahagia, yang pasti itu kesedihan
mendalam buatku. Beberapa menit dari itu aku mengatakan iya dan bersedia menjadi istri kedua pak
Arfan, dan yang lebih ku bingungkan sepertinya mereka sudah tau bahwa aku akan
mengatakan iya, hingga sudah disiapkan sebegitu rupanya. Seperti sudah ada
skenario dan aku menjalankannya.
Beberapa hari setelah itu aku sakit,
serasa masih belum bisa menerima kenyataan, namun tetap ku paksa. Hingga
badanku menjadi kurus dan pucat. Semua orang sempat bingung dengan kondisiku,
seangkan bulan depan aku sudah harus menikah namun sekarang masih sakit. Hingga
hari yang aku takutkan itu akhirnya datang juga dimana aku menjadi pengantin
dari orang yang sama sekali tak ingin aku terima sosoknya, pernikahan itu
memang mereka serahkan padaku atas keinginanku, namun karena pernikahan ini
bukan dari kehendakku, akupun sama sekali tak tertarik, sehingga mereka pula
yang mengatur segalanya mulai dari pakaian, dekorasi dan semuanya. Aku
didandani selayaknya putri arab dengan mahendi penuh ditanganku, jilbab
panjang, kemudian gaun hijau yang elegan. Aku tak memikirkan apapun yang ku
pikirkan adalah bagaimana nasibku setelah menikah dengan orang yang sama sekali
tak ku ingini namun diingini oleh orang tua serta pengasuhku.
Acara pernikahan yang meriah itupun
berlangsung begitu meriah namun diiringi dengan air mataku, aku masih belum tau
siapa sebenarnya suamiku, siapa pak arfan ini, kenapa begitu hikmat acara
pernikahan kami, kenapa begitu banyak orang-orang berjubah menghadiri
pernikahan kami dan mendoakan kami. Meski beliau dosenku namun aku tetap tak
mengenalinya.
Kemudian dikala semua tamu usai dan
bergegas pulang, dan tinggal aku dengannya saja, aku kembali ketakutan, serasa
ada monster yang akan memakanku. Namun anehnya pak arfan sama sekali tak
memasuki kamar kami, hingga pagi berkhusnudzon saja, mungkin pak arfan sedang
bersama istri tuanya. Rumah yang kini ku tingali sangat besar, disini aku
tinggal bersama pak arfan beserta istri dan putrinya yang masih kecil. Ini
adalah hari pertama aku berada diumahnya, namun tak kutemukan siapa-siapa
kecuali pembantu-pembantu yang jumlahnya tak kurang dari sepuluh orang, yang
siap melayaniku. Akupun sama sekali tak tertarik untuk menanyakan keberadaan
pak arfan beserta istri dan anaknya karena ku pikr itu bukan urusanku meski
kini dia suamiku.
Pembantu-pembantu itu hanya
melayaniku tak mengatakan apapun, seusai menikah dengan pak arfan aku masih
tetap kuliah seperti biasa, walau akau yakin respon dari teman-temanku tidak
baik padaku. Dan ternyata benar mereka sedikit menjauhiku, meski begitu mereka
tetap mengucapkan selamat padaku. Entah apa yang mereka fikirkan tapi aku yakin
itu bukanlah sesuatu yang baik. Dan dikampuspun aku tak melihat pak arfan sama
sekali sejak pagi hingga sore.
Ketika aku pulang dari kampus
seperti biasa dengan sepedaku, aku melihat pak arfan didepan rumahnya, seperti
sedang menunggu sesuatu dan benar yang dia tunggu adalah aku. Lalu aku
mendatanginya seraya mencium tangannya, ini kedua kalinya setelah pernikahan
kemarin. Kemudian beliau mengajakku kedalam dan mengenalkanku pada fatimah
istri pertamanya, subhanallah wajahnya luar biasa, benar-benar seperti putri
dari mesir yang wajahnya putih segar dan terlihat bercahaya, berbeda sekali
denganku. Bagaimana bisa pak arfan menikahi perempuan lain yang itu tidak ada
apa-apanya dibanding istri pertamanya, fatimah adalah putri dari seorang ulama di
mesir, dia dinikahi pak arfan atas dasar cinta sedangkan aku???, mungkinkah
lelaki mencari istri muda yang lebih jelek dari istri pertamanya. Tapi
kenyataannya aku yang dipilihnya menjadi istri keduanya, dari ujung kaki sampai
ujung rambut tak ada yang kumiliki lebih dari fatimah. Aku kalah dalam segala
hal. Sebenarnya apa yang pak arfan dariku???
Bersambung......
Tidak ada komentar:
Posting Komentar